<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
	<channel>
		<title>Teluk Bone Online</title>
		<link>http://telukbone.ucoz.net/</link>
		<description>Blog</description>
		<lastBuildDate>Sat, 29 Nov 2008 17:24:09 GMT</lastBuildDate>
		<generator>uCoz Web-Service</generator>
		<atom:link href="https://telukbone.ucoz.net/blog/rss" rel="self" type="application/rss+xml" />
		
		<item>
			<title>Jujurlah agar  hidupmu  tenang</title>
			<description>&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: red;&quot;&gt;&quot;AJARKAN
kami sesuatu agar bisa hidup dengan tenang,&quot; pinta seorang murid Abu
Qubaisy ketika beliau baru selesai menyampaikan kata pembuka majelis
taklimnya pagi itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: red;&quot;&gt;&quot;Jalanilah hidup dengan selalu berbuat dan berkata jujur,&quot; jawab mahaguru yang arif itu.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: red;&quot;&gt;&quot;Cukup hanya dengan jujur? &quot; tanya murid itu lagi dengan penuh penasaran.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: red;&quot;&gt;&quot;Benar.
Di dalam Al-Quran Surat Al-Tawbah ayat 119, Allah berfirman, &apos;Wahai
orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan jadilah kalian
bersama dengan orang-or...</description>
			<content:encoded>&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: red;&quot;&gt;&quot;AJARKAN
kami sesuatu agar bisa hidup dengan tenang,&quot; pinta seorang murid Abu
Qubaisy ketika beliau baru selesai menyampaikan kata pembuka majelis
taklimnya pagi itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: red;&quot;&gt;&quot;Jalanilah hidup dengan selalu berbuat dan berkata jujur,&quot; jawab mahaguru yang arif itu.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: red;&quot;&gt;&quot;Cukup hanya dengan jujur? &quot; tanya murid itu lagi dengan penuh penasaran.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: red;&quot;&gt;&quot;Benar.
Di dalam Al-Quran Surat Al-Tawbah ayat 119, Allah berfirman, &apos;Wahai
orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan jadilah kalian
bersama dengan orang-orang yang jujur ( benar ).&apos;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: red;&quot;&gt;Orang
yang jujur, dan orang yang bersama dengan orang-orang yang jujur
niscaya akan tenang hidupnya. Karena itu petunjuk Allah Swt, dan Dia
tidak menunjukkan hamba-Nya kepada ketidaktenangan,&quot; jelas Abu Qubaisy
membuat paham murid yang bertanya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: red;&quot;&gt;&quot;Tetapi berlaku jujur dan berkata jujur itu bukan perbuatan yang mudah, Tuan,&quot; sanggah murid lain dengan nada penuh keyakinan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: red;&quot;&gt;&quot;Berkata
dan berbuat jujur adalah berkata dan berbuat sesuai dengan apa adanya.
Mengapa tidak mudah? Sebaliknya, berbohong itu tidak gampang. Karena
harus merekayasa sesuatu menjadi tidak seperti apa adanya,&quot; kata Abu
Qubaisy yang ditanggapi dengan anggukan para muridnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: red;&quot;&gt;&quot;Yang
menyebabkan berkata dan berlaku jujur susah karena orang harus melawan
hawa nafsu yang senantiasa bertentangan dengan kebaikan,&quot; sambung guru
besar yang luas ilmunya itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: red;&quot;&gt;&quot;Tapi
berbuat jujur sering kali tidak menguntungkan. Umpama kita mendapatkan
sesuatu yang berharga di jalan. Kalau mau jujur kita harus mencari
pemiliknya dan mengembalikan apa yang kita temukan itu. Padahal
menemukan itu bukan suatu kesalahan, berbeda dengan mencuri. Jadi
mengapa kita harus payah-payah mengembalikannya,&quot; komentar murid yang
lain lagi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: red;&quot;&gt;&quot;Hawa
nafsulah yang berkata, mengapa harus dikembalikan? Tokh kita tidak
mencurinya? Tapi iman dan akal sehat berkata, itu milik orang lain.
Kita tak berhak menguasainya. Dan Rasulullah, sebagaimana diriwayatkan
Bukhari dan Muslim, bersabda, &apos;Sesungguhnya sikap jujur itu membawa
kepada kebaikan, dan kebaikan itu membawa ke surga.&apos;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: red;&quot;&gt;Jadi, terserah mau pilih mana? Surga atau barang temuan?&quot; kata Abu Qubaisy&amp;nbsp; akhirnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;</content:encoded>
			<link>https://telukbone.ucoz.net/blog/2008-11-29-22</link>
			<category>Renungan</category>
			<dc:creator>telukbone</dc:creator>
			<guid>https://telukbone.ucoz.net/blog/2008-11-29-22</guid>
			<pubDate>Sat, 29 Nov 2008 17:24:09 GMT</pubDate>
		</item>
		<item>
			<title>Hidup yang dilingkupi doa</title>
			<description>&lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;&quot;DI dalam Al-Quran Surat Al-Mukmin ayat 60, Allah
Swt menitahkan kita berdoa kepada-Nya. &apos;Berdoalah kepada-Ku, niscaya
akan Kukabulkan doamu.&apos; Demikian titah-Nya. Yang ingin saya tanyakan,
mengapa kita harus berdoa?&quot; tanya seorang murid kepada Abu Qubaisy
ketika guru besar itu baru saja membuka majelis taklim sore, dan belum
sempat menyampaikan kata mukadimahnya.&lt;/p&gt;&lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;&quot;Karena
manusia tidak memiliki daya dan kekuasaan. Betapa hebat dan kerasnya
dia berusaha, Allahlah yang menentukannya berhasil. Karena itu seorang
mukmin harus percaya kepada perlunya bekerja keras, dan berdoa,&quot; jelas
Abu Qubaisy membuat murid yang tadi bertanya, dan mereka yang sekadar
mendengarkan saja, sama-sama mengangguk.&lt;/p&gt;&lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;&quot;Apakah berdoa itu tergolong ibadah, Tuan?&quot; tanya salah seorang di antara murid-murid yang mengangguk-angguk.&amp;nbsp; &lt;/p&gt;&lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;&quot;Segala
perbuatan yang merupakan perintah Allah adalah ibadat. Bukankah berdoa
itu titah Allah sebagai...</description>
			<content:encoded>&lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;&quot;DI dalam Al-Quran Surat Al-Mukmin ayat 60, Allah
Swt menitahkan kita berdoa kepada-Nya. &apos;Berdoalah kepada-Ku, niscaya
akan Kukabulkan doamu.&apos; Demikian titah-Nya. Yang ingin saya tanyakan,
mengapa kita harus berdoa?&quot; tanya seorang murid kepada Abu Qubaisy
ketika guru besar itu baru saja membuka majelis taklim sore, dan belum
sempat menyampaikan kata mukadimahnya.&lt;/p&gt;&lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;&quot;Karena
manusia tidak memiliki daya dan kekuasaan. Betapa hebat dan kerasnya
dia berusaha, Allahlah yang menentukannya berhasil. Karena itu seorang
mukmin harus percaya kepada perlunya bekerja keras, dan berdoa,&quot; jelas
Abu Qubaisy membuat murid yang tadi bertanya, dan mereka yang sekadar
mendengarkan saja, sama-sama mengangguk.&lt;/p&gt;&lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;&quot;Apakah berdoa itu tergolong ibadah, Tuan?&quot; tanya salah seorang di antara murid-murid yang mengangguk-angguk.&amp;nbsp; &lt;/p&gt;&lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;&quot;Segala
perbuatan yang merupakan perintah Allah adalah ibadat. Bukankah berdoa
itu titah Allah sebagaimana yang tertera pada ayat 60 Surat Al-Mukmin
tadi,&quot; jawab Abu Qubaisy sambil tersenyum. &lt;/p&gt;&lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;&quot;Perawi
hadis Tirmizi dalam salah satu riwayatnya menyatakan bahwa Rasulullah&amp;nbsp;
pernah bersabda, &apos;Doa adalah otak dari ibadah.&apos; Dan hidup seorang
mukmin sesungguhnya dilingkupi oleh doa,&quot; sambung guru besar yang luas
ilmu dan pengetahuannya itu. &lt;/p&gt;&lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;&quot;Maksud Tuan?&quot; tanya murid yang pertama kali bertanya ketika Abu Qubaisy baru saja membuka majelis taklimnya tadi.&lt;/p&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&quot;Perbuatan
manakah yang dilakukan seorang mukmin tanpa diiringi doa? Mulai dari
bangun tidur, masuk dan keluar kamar mandi, berpakaian, bercermin,
sarapan, bekerja, makan siang, sampai kembali tidur, semuanya diiringi
dengan doa. Bukankah itu berarti sepanjang hidupnya seorang mukmin
dilingkupi dengan doa? Itulah sebabnya seorang mukmin takkan terjerumus
pada perbuatan buruk. Bila dia melakukan keburukan, pasti iman sedang
tidak bersamanya,&quot; kata Abu Qubaisy mengkhiri tuturnya yang menarik.&lt;/div&gt;</content:encoded>
			<link>https://telukbone.ucoz.net/blog/2008-11-29-21</link>
			<category>Renungan</category>
			<dc:creator>telukbone</dc:creator>
			<guid>https://telukbone.ucoz.net/blog/2008-11-29-21</guid>
			<pubDate>Sat, 29 Nov 2008 17:21:50 GMT</pubDate>
		</item>
		<item>
			<title>Prosesi Mattompang Arang di Tanah Bone</title>
			<description>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;http://bp1.blogger.com/_1nyFuwLhtS4/R21MRadxSBI/AAAAAAAAAD4/59mXKAbFG9M/s1600-h/mattompang.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;&quot; src=&quot;http://bp1.blogger.com/_1nyFuwLhtS4/R21MRadxSBI/AAAAAAAAAD4/59mXKAbFG9M/s200/mattompang.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5146853811200018450&quot; border=&quot;0&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial; font-size: 85%;&quot;&gt;Upacara
adat yang sakral, yaitu upacara mennsucikan benda-benda pusaka Kerajaan
Bone yang disebut “Mappepaccing Arajang” atau dalam istilah pangadereng
(adat) disebut “Rilangiri dan secara khusus disebut “Mattompang Arajang”&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 85%;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial; font-size: 85%;&quot;&gt;Yang
dimaksud dengan Arajang ialah benda atau sekumpulan benda yang sakral
karena memiliki nilai magis dan pernah dipergunakan oleh raja atau
pembesarkerajaan. Benda-benda tersebut disimpan secara khusus d...</description>
			<content:encoded>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;http://bp1.blogger.com/_1nyFuwLhtS4/R21MRadxSBI/AAAAAAAAAD4/59mXKAbFG9M/s1600-h/mattompang.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;&quot; src=&quot;http://bp1.blogger.com/_1nyFuwLhtS4/R21MRadxSBI/AAAAAAAAAD4/59mXKAbFG9M/s200/mattompang.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5146853811200018450&quot; border=&quot;0&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial; font-size: 85%;&quot;&gt;Upacara
adat yang sakral, yaitu upacara mennsucikan benda-benda pusaka Kerajaan
Bone yang disebut “Mappepaccing Arajang” atau dalam istilah pangadereng
(adat) disebut “Rilangiri dan secara khusus disebut “Mattompang Arajang”&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 85%;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial; font-size: 85%;&quot;&gt;Yang
dimaksud dengan Arajang ialah benda atau sekumpulan benda yang sakral
karena memiliki nilai magis dan pernah dipergunakan oleh raja atau
pembesarkerajaan. Benda-benda tersebut disimpan secara khusus dan
sangat dihormati.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 85%;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial; font-size: 85%;&quot;&gt;Pada
zaman dahulu, Mappepaccing Arajang dilaksanakan oleh para Bissu atas
restu raja atau mangkau di dalam ruangan tempat penyimpanan arajang
tersebut. Adapun tahapan prosesi Mattompang Arajang dilaksanakan dengan
tatacara sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 85%;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 85%;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255); font-family: arial; font-size: 85%;&quot;&gt;1.Mappaota&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 85%;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial; font-size: 85%;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial; font-size: 85%;&quot;&gt;Ketua
Adat mempersembahkan Daun Sirih yang diletakkan dalam sebuah Cawan
kepada Bupati Bone sebagai laporan bahwa upacara adat akan segera
dimulai. Selanjutnya diiringi oleh para Bissu ke tempat Arajang.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 85%;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 85%;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255); font-family: arial; font-size: 85%;&quot;&gt;2.Penjemputan Benda-benda Pusaka dari Tempat Arajang&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 255); font-size: 85%;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial; font-size: 85%;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial; font-size: 85%;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial; font-size: 85%;&quot;&gt;Puang
Matoa mempersembahkan Sekapur Sirih (Ota) di depan arajang sebagai
ungkapan penghargaan kepada hal-hal gaib sembari memohon izin untuk
membersihkan Arajang. Proses ini diawali dengan seperangkat
bunyi-bunyian dari tempatnya dan diiringi dengan tarian yang disebut “
Sere Aluasu”oleh para Bissu. Secara religius para Bissulah yang
menggerakkan dan memindahkan Arajang atas persetujuan raja, karena
mereka dianggap mengetahui serta mampu berhubungan dengan gaib yang
menyertai Arajang tersebut. Kemudian Arajang diserahkan kepada tokoh
adat, kemudian dibawa ke hadapan Bupati Bone untuk dikeluarkan dari
sarungnya dan diletakkan kembali tanpa sarung.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 85%;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 85%;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255); font-family: arial; font-size: 85%;&quot;&gt;3.Mattompang&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 255); font-size: 85%;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial; font-size: 85%;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial; font-size: 85%;&quot;&gt;Tokoh
adat membawa Arajang kepada Pattompang untuk disucikan atau ditompang
yang diiringin dengan Gendrang Bali SumangE sampai proses mattompang
selesai. Adapun benda-benda pusaka kerajaan Bone yang disucikan
(ditompang) yaituTerbuat dari emas murni yang terdiri 63 potongan yang
panjangnya 1,77 meter. Pada kedua ujungnya tergantung 2 buah medali
emas yang bertuliskan bahasa Belanda sebagai tanda Penghargaan
Pemerintah Kerajaan Belanda kepada Arung Palakka raja Bone ke-15.
Sembangeng Pulaweng (Salempang Emas);&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 85%;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial; font-size: 85%;&quot;&gt;Benda-benda kerajaan yang ditompang (disucikan) anatara lain : &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial; font-size: 85%;&quot;&gt;*&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial; font-size: 85%;&quot;&gt;La Tea Ri Duni&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 85%;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial; font-size: 85%;&quot;&gt; Sebuah kalewang yang disebut Alameng। Sarung serta hulunya dilapisi emas dan dihiasi intan permata &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 85%;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial; font-size: 85%;&quot;&gt;*Lamakkawa&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 85%;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial; font-size: 85%;&quot;&gt; Sebuah keris yang disebut Tappi Tata Rapeng yang seluruh sarung dan hulunya dilapisi emas.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 85%;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial; font-size: 85%;&quot;&gt;*La Salaga&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 85%;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial; font-size: 85%;&quot;&gt; Sebuah tombak yang pada pegangan dekat mata tombak dihiasi emas. Tombak ini merupakan simbol kehadiran raja.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 85%;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial; font-size: 85%;&quot;&gt;*Alameng Tata Rapeng&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 85%;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial; font-size: 85%;&quot;&gt;
Sejenis kalewang yang hulu serta sarungnya berlapis emas dan merupakan
kelengkapan pakaian kebesaran Ade Pitu (Hadat Tujuh semacam legislatif
masa kini)। &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 85%;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial; font-size: 85%;&quot;&gt;Setelah
dibersihkan, Arajang diperhadapkan kembali kepada Bupati Bone untuk
disarungkan. Kemudian Tokoh Adat dan para Bissu menuju ke tempat
Arajang untuk menyimpan kembali benda-benda pusaka tersebut ketempat
semula&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content:encoded>
			<link>https://telukbone.ucoz.net/blog/2008-11-26-20</link>
			<category>Budaya</category>
			<dc:creator>telukbone</dc:creator>
			<guid>https://telukbone.ucoz.net/blog/2008-11-26-20</guid>
			<pubDate>Wed, 26 Nov 2008 19:33:12 GMT</pubDate>
		</item>
		<item>
			<title>Prosesi Kegiatan hari Jadi Bone</title>
			<description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 0, 0);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;font color=&quot;#ff0000&quot;&gt;Hari
Jadi Bone diperingati setiap tanggal 6 April setiap tahunnya. Hal ini
berdasarkan Perda Kabupaten Bone Nomor 1 Tahun 1990. Penetapan ini
diawali dengan kegiatan seminar yang dihadiri oleh pakar sejarah dan
budayawan Bone. Pada tahun 2007 Bone memperingati hari jadinya ke-677
yang terhitung sejak To Manurung sebagai Raja Bone I (1330).&lt;br&gt;Adapun kegiatan yang dilakukan dalam memperingati Hari Jadi Bone diantaranya sebagai berikut :&lt;/font&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 0, 0);&quot;&gt;A.MATTOMPANG ARAJANG&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;http://bp3.blogger.com/_j4KnP5YS-fM/R8Wo5-rl23I/AAAAAAAAADg/q0z-fQwrL9U/s1600-h/mattompang.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer...</description>
			<content:encoded>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 0, 0);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;font color=&quot;#ff0000&quot;&gt;Hari
Jadi Bone diperingati setiap tanggal 6 April setiap tahunnya. Hal ini
berdasarkan Perda Kabupaten Bone Nomor 1 Tahun 1990. Penetapan ini
diawali dengan kegiatan seminar yang dihadiri oleh pakar sejarah dan
budayawan Bone. Pada tahun 2007 Bone memperingati hari jadinya ke-677
yang terhitung sejak To Manurung sebagai Raja Bone I (1330).&lt;br&gt;Adapun kegiatan yang dilakukan dalam memperingati Hari Jadi Bone diantaranya sebagai berikut :&lt;/font&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 0, 0);&quot;&gt;A.MATTOMPANG ARAJANG&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;http://bp3.blogger.com/_j4KnP5YS-fM/R8Wo5-rl23I/AAAAAAAAADg/q0z-fQwrL9U/s1600-h/mattompang.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;&quot; src=&quot;http://bp3.blogger.com/_j4KnP5YS-fM/R8Wo5-rl23I/AAAAAAAAADg/q0z-fQwrL9U/s320/mattompang.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5171725461136726898&quot; border=&quot;0&quot;&gt;&lt;/a&gt;Merupakan
kegiatan mensucikan Benda-benda pusaka kerajaan Bone yang terdiri dari
: Keris Lamakkawa, Pedang (Alameng), Latenri Duni, dansenjata perang
lainnya serta Salempang Emas (Sembang Pulaweng). &lt;/div&gt;&lt;p style=&quot;margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 0cm;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;Penyucian
ini dilaksanakan secara adat, dengan pelaksana oleh para Empu Keris
Pusakan yang disertai tata cara adat lainnya meliputi Sere Bissu yang
diiringi musik “Gendrang Bali Sumange”, Ana” Beccing, dan Kancing.
Dimasa kerajaan masa lampau, kegiatan ini sebagai&lt;span&gt; &lt;/span&gt;bahagian
upacara ritual untuk menghadapi hal-hal tertentu seperti ketika akan
menghadapi perang, menghadapi wabah penyakit yang melanda kerajaan, dan
guna mendatangkan hujan ketika terjadi kemarau panjang.&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify; color: rgb(255, 0, 0);&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;b&gt;B.KIRAB KERAJAAN BONE&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;http://bp3.blogger.com/_j4KnP5YS-fM/R8WoY-rl22I/AAAAAAAAADY/EamI18hv86s/s1600-h/kirab-kerajaan.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;&quot; src=&quot;http://bp3.blogger.com/_j4KnP5YS-fM/R8WoY-rl22I/AAAAAAAAADY/EamI18hv86s/s320/kirab-kerajaan.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5171724894201043810&quot; border=&quot;0&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;http://bp0.blogger.com/_j4KnP5YS-fM/R8WrHOrl25I/AAAAAAAAADw/PTO0wDrwzDU/s1600-h/harijadibone_677_2007_5.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;&quot; src=&quot;http://bp0.blogger.com/_j4KnP5YS-fM/R8WrHOrl25I/AAAAAAAAADw/PTO0wDrwzDU/s320/harijadibone_677_2007_5.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5171727887793249170&quot; border=&quot;0&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;http://bp1.blogger.com/_j4KnP5YS-fM/R8Wr5erl27I/AAAAAAAAAEA/w4LzAA04lGA/s1600-h/harijadibone_677_2007_7.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;&quot; src=&quot;http://bp1.blogger.com/_j4KnP5YS-fM/R8Wr5erl27I/AAAAAAAAAEA/w4LzAA04lGA/s320/harijadibone_677_2007_7.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5171728751081675698&quot; border=&quot;0&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;http://bp3.blogger.com/_j4KnP5YS-fM/R8Wrc-rl26I/AAAAAAAAAD4/_p79shUrXhk/s1600-h/harijadibone_677_2007_6.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;&quot; src=&quot;http://bp3.blogger.com/_j4KnP5YS-fM/R8Wrc-rl26I/AAAAAAAAAD4/_p79shUrXhk/s320/harijadibone_677_2007_6.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5171728261455403938&quot; border=&quot;0&quot;&gt;&lt;/a&gt;Kirab
kerajaan Bone adalah serangkaian prosesi adat yang digelar pada saat
diperingatinya Hari Jadi Bone setiap tahunnya. Dalam prosesi adat ini
dipergelarkan sejumlah jenis dan susunan pasukan kerajaan Bone dimasa
lampau, yang terdiri dari: Pasukan Petta PonggawaE (Panglima Perang),
Pasukan Raja dan Permaisuri, Pasukan Bissu Kerajaan, Pasukan Laskar
(Prajurit Kerajaan), Pasukan Ade Pitu (Tujuh Petinggi kerajaan, serta
Pasukan Tokoh-tokoh Masyarakat. &lt;/div&gt;&lt;p style=&quot;margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 0cm; color: rgb(255, 0, 0);&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt; &lt;b&gt;C.SENDRATARI&lt;span&gt; &lt;/span&gt;MANURUNGNGE RI MATAJANG&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 0cm;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;Merupakan
Sendratari yang menyajikan kisah sejarah awala terjadinya Pengangkatan
dan Pelantikan Raja (Mangkau), yang sekaligus merupakan babakan awal
terciptanya tata pemerintahan kerajaan I dimasa abad XIII pada tahun
13130 di Tanah Bone. Sendratari ini mengisahkan bahwa Tanah Bone pada
abad XIII, kehidupan masyarakat serba tidak menentu. Di antara kelompok
masyarakat adat yang ketika itu masing-masing dipimpin oleh seorang
ketua adat atau disebut Matoa, saling menjatuhkan dan memerang satu
sama lain. Sehingga suasana kehidupan menjadi carut – marut, di
mana-mana para warga saling bermusuhan. Tidak Ada lagi tatanan yang
dapat mempersatukan rakyat Bone, kemiskinan terjadi, keterpurukan
terjadi pada semua sendi kehidupan. Peristiwa demi peristiwa terjadi
tanpa terkendali, sehingga suatu saat terjadi satu keajaiban di mana
bumii diliputi hujan lebat dan petir menyambar-nyambar dengan sangat
dahsyat dan menyilaikan mata. Tiba-tiba muncul seorang yang berpakaian
putih yang tidak diketahui asalnya (dalam kisah lontara ia disebut
dsebagai PUA CILAO), hujan dan petirpun reda. Mengalami peristiwa ajaib
ini para warga yang berperangpun menghentikan aktivitasnya melihat
kedatangan seorang yang dianggap turun dari langit. Para wargapun
kemudian memberikan salam hormat.&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 0cm;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;Namun
sang pendatang ini menolak untuk diberi penghormatan dan bahkan ia
menyampaikan pesan bahwa manusia yang pantas bagi mereka untuk diberi
penghormatan buakanlah ia, melainkan ada seseorang yang lain yang kelak
akan menjadi pemimpin mereka di Tanah Bone. Dialah yang akan menjadi
raja (Mangkau) I di Tanah Bone. Jelang beberapa lama muncullah
seseorang dengan berpakaian lengkap yang didampingi oleh para
pengapitnya berikut sejumlah Bissu sebagai pasukan pengawal.&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dialah
Sang ManurungngE Ri Matajang bergelar Mattasi LompoE. Dan setelah duduk
bersama para Tokoh Pemimpin Rakyat (Matoa), maka para Matoa bersepakat
mengangkat ManurungngE Ri Matajang sebagai Mangkau (raja) I di tanah
Bone. Sehingga sejak itu pada tahun 1330 berdirilah Kerajaan Bone.&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;b style=&quot;color: rgb(255, 0, 0);&quot;&gt;D.TARI ALUSU&lt;/b&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;Tari
yang digelar untuk penjemputan tamu kehormatan dari kerajaan lain.
Diperagakan pada awalnya oleh para Bissu kerajaanpada abad XVI masa
pemerintahan Raja Bone X We Tenri Tuppu MatinroE Ri Sidenreng, tari ini
biasa juga disebut Sere Bissu. Kemudian pada masaberikutnya dipergakan
dalam bentuk tari yang disebut Tari Alusu yang diperagakan oleh
paradara-dara di lingkungkangan bangsawan&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;b style=&quot;color: rgb(255, 0, 0);&quot;&gt;E.TARI PAJAGA ANDI&lt;/b&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Lahir
pada masa Raja Bone Webenri Gau Fatima Banri, ia juga selaku pencipta
pakaian “Waju Ponco” yang dikenakan bagi para andi-andi seperti
sekarang ini. Tari ini diperagakan pada saat “Majjaga” di saoraja untuk
menciptakan suasana hiburan bagi raja ketika sedangberistirahat.&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;b style=&quot;color: rgb(255, 0, 0);&quot;&gt;F. TARI MARANENG SONGKOK PAMIRING&lt;/b&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;Merupakan
tari kreasi daerah Bone yang menggambarkan cara menganyam Songkok To
Bone. Mulai dari pengambilan bahan (dari ure’ Ca/Serat pohon lontar)
sampai menjadibentuk songkok. Tarian ini diperagakan oleh para anak
dara dan Kallolona Tanah Bone kostum Adat Bugis Bone, dihadapan para
tamu Kehormatan Daerah. dengan Instrumentarian ini adalah gendang,
gong, kecapi, suling, dan peralatan lainnya.&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;b style=&quot;color: rgb(255, 0, 0);&quot;&gt;G.GENRANG SANRO&lt;/b&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;Dibawakan
oleh para sanro (dukun) untuk meminta restu dewa guna menolak bencana
yang diperkirakan akan menimpa kerajaan. Selain itu juga dipakai dalam
upacara adat seperti: Acara Menre’ Bola (menempati rumah baru),
Mappakkulawi (Maruwwaelawi) yaitu selamatan anak yang baru lahir. Acara
ini sudah ada sejak zaman kerajaan, dilakukan oleh para Sanro yang
lahir setelah berakhirnya peranan Bissu di lingkungan kerajaan. Para
Sanro ini bisa darilaki-laki maupun perempuan. Alat yang digunakan :
gendang, anak beccing, kancing, mangkok porselin, dan sinto (dari bahan
daun lontar).&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;b style=&quot;color: rgb(255, 0, 0);&quot;&gt;H.GENRANG BAJO&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Diperagakan
oleh oleh komunitas suku Bajo, yang memberikan gambaran situasi
kehidupan suku Bajo di pesisir pantai. Genrang Bajo sering disebut juga
sebagai Genrang Pabbiring (pesisir)&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 0, 0);&quot;&gt;I.GENRANG BALISUMANGE&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/b&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Diperagakan
oleh rumpun bangsawan untuk mengiringi upacara adat perkawinan, upacara
malam perkawinan adat bugis Bone lingkungan Saoraja. Genrang
BalisumangE biasa juga digelar pada acara perkawinan antar rumpun
bangsawan, mulai dari mappettu ada, tudang penni, sampai hari
perkawinan (esso botting); selalu diiringi dengan anak baccing dan
kancing.&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 0, 0);&quot;&gt;J.GENRANG PANGAMPI&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/b&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Dibunyikan
saat warga menjaga padi, sehingga hama dan burung, pengganggu
pemakanpadi menjauh dari tempat/sawah. Alat yang dipakai : alat bambu
dan kayu pilihan, biasanyadiiringi dengan &quot; katiting &quot; (dari batang
padi).&lt;br&gt;&lt;/div&gt;(Ditulis Oleh : Mursalim, S.Pd., M.Si. Direktur Lembaga Seni Budaya Teluk Bone)</content:encoded>
			<link>https://telukbone.ucoz.net/blog/2008-11-26-19</link>
			<category>Budaya</category>
			<dc:creator>telukbone</dc:creator>
			<guid>https://telukbone.ucoz.net/blog/2008-11-26-19</guid>
			<pubDate>Wed, 26 Nov 2008 19:29:20 GMT</pubDate>
		</item>
		<item>
			<title>Lamellong diplomat dari Bone</title>
			<description>&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Lamellong
dikenal sebagai orang yang paling berperan dalam menciptakan pola dasar
pemerintahan Kerajaan Bone di masa lampau. Tepatnya pada abad ke-16
masa pemerintahan Raja Bone ke-6 La Uliyo Bote’E (1543-1568) dan raja
Bone ke-7 Tenri Rawe BongkangngE&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;(1568-1584).
Lamellong muncul ibarat bintang gemilang di kerajaan. Dengan
pokok-pokok pikiran tentang hukum dan ketatanegaraan. Pokok-pokok
pikiran beliau&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;menjadi acuan bagi Raja dalam melaksanakan aktivitas pemerintahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Tentang
Lamellong di tanah Bugis, dilacak melalui sumber-sumber lisan berupa
cerita rakyat dan catatan sejarah, baik dari lontara maupun
tulisan-tulisan lainnya. Serpihan tulisa...</description>
			<content:encoded>&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Lamellong
dikenal sebagai orang yang paling berperan dalam menciptakan pola dasar
pemerintahan Kerajaan Bone di masa lampau. Tepatnya pada abad ke-16
masa pemerintahan Raja Bone ke-6 La Uliyo Bote’E (1543-1568) dan raja
Bone ke-7 Tenri Rawe BongkangngE&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;(1568-1584).
Lamellong muncul ibarat bintang gemilang di kerajaan. Dengan
pokok-pokok pikiran tentang hukum dan ketatanegaraan. Pokok-pokok
pikiran beliau&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;menjadi acuan bagi Raja dalam melaksanakan aktivitas pemerintahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Tentang
Lamellong di tanah Bugis, dilacak melalui sumber-sumber lisan berupa
cerita rakyat dan catatan sejarah, baik dari lontara maupun
tulisan-tulisan lainnya. Serpihan tulisan yang ada lebih banyak
mencatat tentang buah pikirannya yang menyangkut “Konsep Hukum dan
Ketatanegaraan” dalam bahasa Bugis Bone disebut “Pangngadereng”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Dalam
lintasan perjalanan Kerajaan Bone dilukiskan, betapa besar jasa
Lamellong dalam mempersatukan tiga Kerajaaan Bugis, yakni Bone,
Soppeng, dan Wajo, dalam sebuah ikrar sumpah setia untuk saling
membantu dalam hal pertahanan dan pembangunan kerajaan. Ikrar ini
dikenal dengan nama “Lamumpatua” ri Timurung tahun 1582 pada masa
pemerintahan La tenri Rawe BongkangngE.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Dalam
ikrar itu ketiga raja yakni, La Tenri Rawe BongkangngE (Bone), La
Mappaleppe PatoloE (Soppeng), dan La Mungkace To Uddamang (Wajo)
menandai ikrar itu dengan menenggelamkan tiga buah batu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Pokok-pokok pikiran Lamellong yang dianjurkan kepada raja Bone ada empat hal, yakni :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;1.Tidak membiarkan rakyatnya bercerai-berai;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;2.Tidak memejamkan mata siang dan malam;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;3.Menganalisis sebab akibat suatu tindakan sebelum dilakukan; dan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;4.Raja harus mampu bertututur kata dan menjawab pertanyaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 255);&quot;&gt;Gelar Kajao&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Karena pola pikiran dan kemampuannya yang luar biasa itu, maka Lamellong diberi gelar &lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;penghargaan
dari kerajaan yang disebut “Kajao Lalliddong”. Kajao berarti orang
cerdik pandai dari kampung Lalliddong. Ia dilahirkan pada masa
pemerintahan Raja Bone ke-4 We Benrigau (1496-1516).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Sejak
kecil dalam diri Lamellong telah nampak adanya bakat-bakat istimewa
untuk menjadi seorang ahli pikir yang cemerlang.. Bakat-bakat istimewa
itu kemudian nampak menjelang usia dewasanya yang dilatarbelakangi
iklim yang bergolak, di mana pada zaman itu&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;Gowa
telah berkembang sebagai kerajaan yang kuat di jazirah Sulawesi
Selatan. Kerajaan-kerajaan kecil yang merdeka di Sulawesi Selatan satu
demi satu ditaklukkannya baik secara damai maupun kekerasan. Hanya
Kerajaan Bonelah yang masih dapat mempertahankan diri dari ekspansi
Gowa. Akan tetapi lambat laun Kerajaan Bone dalam keadaan terkepung
menyebabkan kerajaan dan rakyat Bone dalam situasi darurat, namun
akhirnya dua kerajaan yang berseteru berdamai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Menurut
catatan Lontara, bahwa pada masa pemerintahan Raja Bone ke-7 La Tenri
Rawe BongkangngE. Lamellong atau Kajao lalliddong diangkat menjadi
penasihat dan Duta Keliling Kerajaan Bone. Ia dikenal sebagi seorang
ahli pikir besar, negarawan, dan seorang diplomat ulung bagi negara dan
bangsanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;
Dalam perjanjian Caleppa (Ulu Kanaya ri Caleppa) antara Kerajaan Bone
dan Gowa tahun 1565. Lamellong atau Kajao Lalliddong memainkan peranan
penting. Juga perjanjian persekutuan antara kerajaan Bone,Soppeng, dan
Wajo yang disebut Perjajnjian LamumpatuE ri Timurung tahun 1582.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt; Ajaran-ajaran Kajao termuat dalam berbagai Lontara diantaranya LATOA seperti beberapa alinea yang dikutip berikut ini : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Dalam
dialog Kajao dengan raja Bone (berkata Raja Bone : Apa tandanya apabila
negara itu mulai menanjak kejayaannya? Jawab Kajao : Duwa tanranna
namaraja tanae, yanaritu seuwani namalempu namacca Arung MangkauE,
madduwanna tessisala-salae. Artinya : dua tandanya negara menjadi jaya,
pertama raja yang memerintah memiliki kejujuran serta kecerdasan, kedua
di dalam negeri tidak terjadi perselisihan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Selain
itu, ajaran Lamellong Kajao Lalliddong mengenai pelaksanaan
pemerintahan dan kemasyarakatan yang disebut “Inanna WarangparangngE”
yaitu sumber kekayaan, kemakmuran, dan keadilan antara lain :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;margin-left: 14.2pt; text-indent: -14.2pt; text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;1.&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Perhatian Raja terhadap rakyatnya harus lebih besar dari pada perhatian terhadap dirinya sendiri;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;margin-left: 14.2pt; text-indent: -14.2pt; text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;2.&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Raja harus memiliki kecerdasan yang mampu menerima serta melayani orang banyak;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;margin-left: 14.2pt; text-indent: -14.2pt; text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;3.&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Raja harus jujur dalam segala tindakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Tiga
faktor utama yang ditekankan Kajao dalam pelaksanaan pemerintahan,
merupakan ciri demokratisasi yang membatasi kekuasaan Raja, sehingga
Raja tidak dapat bertindak sewenang-wenang dalam menjalankan norma yang
telah ditetapkan. Tentang Pembatasan kekuasaan, dalam lontara
disebutkan, bahwa Arung Mangkau berkewajiban untuk menghormati hak-hak
orang banyak. Perhatian Raja harus sepenuhnya diarahkan kepada
kepentingan rakyat sesuai amanah yang telah dipercayakan kepadanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Lebih
jauh Lamellong Sang Kajao menekankan bahwa raja dalam melaksanakan roda
pemerintahannya harus berpedoman kepada “Pangngadereng” (Sistem Norma).
Adapun sistem norma menurut konsep Lamellong Kajao Lalliddong sebagai
berikut :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 255);&quot;&gt;1.ADE’&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;Ade
merupakan komponen pangngaderen yang memuat aturan-aturan dalam
kehidupan masyarakat. Ade’ sebagai pranata sosial didalamnya terkandung
beberapa unsur antara lain :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;margin-left: 14.2pt; text-indent: -14.2pt; text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;a.&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Ade pura Onro, yaitu norma yang bersifat permanenatau menetap dengan sukar untuk diubah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;margin-left: 14.2pt; text-indent: -14.2pt; text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;b.&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Ade
Abiasang, yaitu sistem kebiasaan yang berlaku dalam suatu masyarakat
yang dianggap tidak bertentangan dengan hak-hak asasi manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;margin-left: 14.2pt; text-indent: -14.2pt; text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;c.&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Ade Maraja, yaitu sistem norma baru yang muncul sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 255);&quot;&gt;2.BICARA&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;
Bicara adalah aturan-aturan peradilan dalam arti luas. Bicara lebih
bersifat refresif, menyelesaikan sengketa yang mengarah kepada keadilan
dalam arti peradilan bicara senantiasa berpijak kepada objektivitas,
tidak berat sebelah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 255);&quot;&gt;3.RAPANG&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;
Rapang adalah aturan yang ditetapkan setelah membandingkan dengan
keputusan-keputusan terdahulu atau membandingkan dengan keputusan adat
yang berlaku di negeri tetangga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 255);&quot;&gt;4.WARI&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;
Wari adalah suatu sistem yang mengatur tentang batas-batas kewenangan
dalam masyarakat, membedakan antara satu dengan yang lainnya dengan
ruang lingkup penataan sistem kemasyarakatan, hak, dan kewajiban setiap
orang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;
Setelah agama Islam resmi menjadi agama Kerajaan Bone pada abad ke-17,
maka keempat komponenpangngadereng (Ade, Bicara, rapang, dan wari)
ditambah lagi satu komponen, yakni Sara (Syariah). Dengan demikian
ajaran Kajao Lalliddong tentang hukum yang mengatur kehidupan
masyarakat, baik secara individu maupun kominitas dalam wilayah
kerajaan, dengan ditambahkannya komponen sara diatas menjadi semakin
lengkap dan sempurna. Ajaran Kajao ini selanjutnya menjadi pegangan
bagi kerajaa-kerajaan Bugis yang ada di Sulawesi Selatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;
Dapat dikatakan, bahwa lewat konsep “Pangngadereng” ini menumbuhkan
suatu wahana kebudayaan yang tak ternilai bukan hanya bagi masyarakat
Bugis di berbagai pelosok nusantara. Bahkan ajaran Kajao Lalliddong ini
telah memberi warna tersendiri peta budaya masyarakat Bugis, sekaligus
membedakannya dengan suku-suku lain yang mendiami nusantara ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;Semasa
hidupnya Kajao Lalliddong senantiasa berpesan kepada siapa saja, agar
bertingkahlaku sebagai manusia yang memiliki sifat dan hati yang baik.
Karena menurutnya, dari sifat dan hati yang baik, akan melahirkan
kejujuran, kecerdasan, dan keberanian. Diingatkan pula, bahwa di
samping kejujuran, kecerdasan, dan keberanian maka untuk mencapai
kesempurnaan dalam sifat manusia harus senantiasa bersandar kepada
kekuasaan “Dewata SeuwwaE” (Tuhan Yang Maha Esa). Dan dengan ajarannya
ini membuat namanya semakin populer, bukan hanya dikenal sebagi
cendekiawan, negarawan, dan diplomat ulung, tetapi juga dikenal sebagi
pujangga dan budayawan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;
Nama dan jasanya sampai kini terpatri dalam hati sanubari masyarakat
Bone khususnya, bahkan masyarakat bugis pada umumnya. Dia adalah
peletak dasar konsep-konsep hukum (Pangngadereng) dan ketatanegaraan
yang sampai kini msaih melekat pada sikap dan tingkah laku orang Bugis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 255);&quot;&gt;Saat-saat Terakhir dalam Hidupnya&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;
Mengingat usia Lamellong Kajao Lalliddong pada akhir pemerintahan
Latenri Rawe Bongkangnge (1584) sudah mencapai 71 tahun, maka banyak
yang berpendapat, bahwa pada masa pemerintahan raja Bone ke-8 peranan
Kajao Lalliddong secara pisik sebagai penasihat kerajaan tidak lagi
terlalu nampak, kecuali buah-buah pikirannya tetap menjadi acuan bagi
raja dalam melaksanakan aktivitasnya. Pada masa inilah Lamellong yang
digelar Kajao Lalliddong meninggal dunia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;
Sumber-sumber lisan misalnya cerita rakyat di Kabupaten Bone
menyebutkan bahwa di saat usia uzur, beliau memilih meninggalkan istana
raja dan kembali ke kampung kelahirannya di Lalliddong yang pada saat
itu berada dalam wilayah wanua Cina. Tetapi bukan berarti buah-buah
pikirannya tidak lagi dibutuhkan. Setiap saat raja dan aparatnya masih
tetap meminta pendapat bila ada hal-hal yang sulit untuk dipecahkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;
Tentang pemberian gelar “Kajao” yang menurut bahasa Bugis, hanya
diperuntukkan bagi nenek perempuan, hal ini menimbulkan analisis, bahwa
selama hidupnya Kajao Lalliddong berperan sebagai “Rohaniawan” (Bissu)
di mana pada saat itu Kerajaan Bone masih dipengaruhi oleh agama Hindu.
Dengan peranannya sebagai Bissu, maka tingkah lakunya selalu namapak
sebagai layaknya seorang perempuan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;Di
desa Kajao Lalliddong Kecamatan Barebbo kabupaten Bone ada dua versi
tentang peristiwa meninggalnya ahli pikir kerajaan Bone itu. Versi
pertama menyebutkan, bahwa Kajao Lalliddong diakhir hidupnya ditandai
dengan peristiwa “Mallajang” (menghilang) bersama anjing kesayangannya.
Pada saat itu Kajao Lalliddong bersama anjingnya berjalan-jalan di
Kampung Katumpi sebelah selatan kampung Lamellong, namun setelah
dilakukan pencarian, ternyata Kajao Lalliddong bersama anjingnya tidak
dapat ditemukan. Dengan demikian orang-orang di kampung Lalliddong
menyatakan “Mallajang” (menghilang).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;Versi
kedua menyatakan di saat usia Kajao lalliddong bertambah uzur, pada
akhirnya menghembuskan nafas terakhir dengan tenang. Hanya tidak
disebutkan bagaimana proses pemakamannya, apakah mengikuti prosesi
animisme, atau agama Hindu, yakni dibakar atau dimakamkan sebagaimana
kebiasaan orang Bugis saat itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;Tentang
makamnya yang terletak di Desa Lalliddong sekarang ini, menurut
penduduk setempat pada mulanya hanyalah merupakan kuburan biasa yang
ditandai sebuah batu sebagai nisan. Nanti pada suatu saat beberapa
turunannya mengambil inisiatif dengan memugarnya, sehinnga sekaran
nampak lebih unik dari kuburan lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: left; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;Di
sekitar makam Kajao Lalliddong terdapat beberapa kuburan tua. Menurut
cerita penduduk di desa itu yang merasa turunannya, bahwa
kuburan-kuburan itu adalah sanak keluarga Lamellong Kajao Lalliddong di
masa hidupnya. Sedikitnya ada empat kuburan tua yang terdapat disekitar
kuburan Kajao Lalliddong samapai sekarang tetap terjaga dan terpelihara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; font-family: arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;Menurut
sumber yang dapat dipercaya, bahwa saat-saat terakhir kehidupan
Lamellong Kajao Lalliddong memperlihatkan hal-hal yang istimewa tentang
ilmu kebatinan. Bahkan masyarakat banyak menganggap Kajao Lalliddong
memilki berkah, sehinnga setiap saat dikunjungi oleh banyak orang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; face=&quot;arial&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 255);&quot;&gt;Tongkat Lamellong&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify; font-family: arial;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;Di dusun Lamellong&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;sekarang
ini terdapat sebuah pohon besar yang berdiameter kira-kira 10 meter
lebih hingga sekaran masih nampak berdiri dan tumbuh menjulang tinggi.
Masyarakat meyakini pohon itu adalah tongkat Lamellong.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify; font-family: arial;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;Konon
pada suatu hari, Lamellong pernah mengambil pohon” Nyelle “ yang masih
kecil untuk dijadikan tongkat. Namun karena tongkat itu tidak lagi
digunakan maka dipancangkannya di atas tanah. Ternyata tongkat kayu itu
kemudian tumbuh dengan suburnya, sampai sekarang pohon itu masih ada.
Bahkan poho besar itu dijadikan penanda oleh penduduk setempat kapan
mulainya musim tanam jagung. Menurut para petani di kampung Lalliddong
apabila pohon nyelle itu sudah betul-betul rimbun maka tibalah saatnya
menanam jagung. Selain itu pelaut-pelaut dari Sulawesi Selatan dan
Tenggara yang akan berlabuh di Barebbo, maka pohon itulah dijadikan
sebagai pedoman. Menurut mereka, selagi masih jauh dari daratan sudah
kelihatan, puncak pohon ini sayup-sayup melambai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;
Benar atau tidak, yang jelas bahwa pohon nyelle tersebut yang diyakini
masyarakat setempat sebagai tongkat Lamellong, masih dapat disaksikan
keberadaannya hinnga saat ini. Oleh sebagian masyarakat setempat
menganggap pohon besar itu “angker”&lt;br&gt;(Ditulis Oleh : Mursalim, S.Pd., M.Si.)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</content:encoded>
			<link>https://telukbone.ucoz.net/blog/2008-11-26-18</link>
			<category>Sejarah</category>
			<dc:creator>telukbone</dc:creator>
			<guid>https://telukbone.ucoz.net/blog/2008-11-26-18</guid>
			<pubDate>Wed, 26 Nov 2008 19:24:18 GMT</pubDate>
		</item>
		<item>
			<title>Arung Palakka Pahlawan dari Bone</title>
			<description>&lt;h3 class=&quot;post-title entry-title&quot;&gt; &lt;/h3&gt; &lt;div class=&quot;post-body entry-content&quot;&gt; &lt;h3 class=&quot;post-title entry-title&quot;&gt; &lt;/h3&gt; &lt;div class=&quot;post-body entry-content&quot;&gt; &lt;p&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;http://bp2.blogger.com/_qFGtwjWWFkg/R6RclTrDWjI/AAAAAAAAAMs/NL7OKRZWTDE/s1600-h/ARUNG+PALAKKA.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;&quot; src=&quot;http://bp2.blogger.com/_qFGtwjWWFkg/R6RclTrDWjI/AAAAAAAAAMs/NL7OKRZWTDE/s320/ARUNG+PALAKKA.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5162352868879194674&quot; border=&quot;0&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;ARUNG PALAKKA PETTA MALAMPEE GEMME’NA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Adalah
Raja Bone ke-15 lahir pada 15 September 1634. Nama lengkapnya adalah
Arung Palakka La Tenri Tatta Petta Malampee Gemme’na. Dalam sejarah
Sulawesi Selatan di abad ke-17, khususnya dalam perang Makassar nama
Latenri Tatta Arung Palakka tidak dap...</description>
			<content:encoded>&lt;h3 class=&quot;post-title entry-title&quot;&gt; &lt;/h3&gt; &lt;div class=&quot;post-body entry-content&quot;&gt; &lt;h3 class=&quot;post-title entry-title&quot;&gt; &lt;/h3&gt; &lt;div class=&quot;post-body entry-content&quot;&gt; &lt;p&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;http://bp2.blogger.com/_qFGtwjWWFkg/R6RclTrDWjI/AAAAAAAAAMs/NL7OKRZWTDE/s1600-h/ARUNG+PALAKKA.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;&quot; src=&quot;http://bp2.blogger.com/_qFGtwjWWFkg/R6RclTrDWjI/AAAAAAAAAMs/NL7OKRZWTDE/s320/ARUNG+PALAKKA.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5162352868879194674&quot; border=&quot;0&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;ARUNG PALAKKA PETTA MALAMPEE GEMME’NA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Adalah
Raja Bone ke-15 lahir pada 15 September 1634. Nama lengkapnya adalah
Arung Palakka La Tenri Tatta Petta Malampee Gemme’na. Dalam sejarah
Sulawesi Selatan di abad ke-17, khususnya dalam perang Makassar nama
Latenri Tatta Arung Palakka tidak dapat dipisahkan. Menurut Mr.
Strotenbekker, seorang sejarawan Belanda dalam bukunya tertulis
silsilah yang menyatakan, bahwa Datu Soppeng ri Lau yang bernama
Lamakkarodda Mabbelluwa’E kawin dengan We Tenri Pakku Putri raja Bone
ke-6 La Uliyo Bote’E MatinroE ri Itterung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Dari
perkawinan ini lahir seorang putri yang bernama We Suji Lebba’E ri
Mario. We Suji Lebba’E kawin dengan Raja Bone ke-11 Latenri Rua Sultan
Adam matinroE ri Bantaeng, Raja Bone yang pertama kali memeluk agama
Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Dari
perkawinan itu lahir seorang putranya yang bernama We Tenri Sui’ Datu
Mario ri Wawo. We Tenri Sui’ kawin dengan seorang bangsawan Soppeng
yang bernama Pattobune. Datu Lompuleng Arung Tana Tengnga. Dari
perkawinan itu lahir :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;1.Da Unggu (putri)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;2.Latenri Tatta Arung Palakka (putra)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;3.Latenri Girang (putra)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;4.We Kacumpurang Da Ompo (putri)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;5.Da Emba (putri), dan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;6.Da Umpi Mappolobombang (putri)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Jadi
Latenri Tatta Arung Palakka adalah bangsawan Bone dan Soppeng, cucu
dari Raja Bone ke-11 La Tenriruwa La Pottobune bertempat di Lamatta di
daerah Mario ri Wawo dalam wilayah kerajaan Soppeng. Dari enam orang
anak La Pottobune Datu Lompuleng Arung Tana Tengnga dengan isterinya We
Tenri Sui Datu Mario ri Ase, ada dua orang diantaranya yang menjadi
pelaku sejarah Bone di abad ke-17 yaitu :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;1.La Tenri Tatta Daeng Serang yang memimpin peperangan melawan kekuasaan Gowa, dan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;2.We Mappolobombang yang melahirkan Lapatau matanna Tikka Raja Bone ke-16&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Oleh
karena itu La Tenri Tatta Arung Palakka tidak mempunyai anak, sekalipun
istrinya (I Mangkau Daeng Talele) sangat mengharapkannya, maka ia
mengangkat keponakannya yang bernama La Patau menjadi raja Bone ke-16
dengan gelar Sultan Alamuddin Petta MatinroE ri Nagauleng.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Arung
Palakka, diantara bangsawan-bangsawan Bone dan Soppeng yang diasingkan
dari negerinya, setelah Baginda La Tenri Aji kalah dalam pertempuran di
Pasempe pada tahun 1646, terdapat Arung Tana Tengnga La Pottobune dan
ayahnya, yaitu Arung Tana Tengnga Tua&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Wilayah
kepangeranan Tana Tengnga terletak di tepi sungai WalenneE berdekatan
dengan Lompulle dan bernaung di bawah daulat Kerajaan Soppeng. Dalam
pengasingan itu La Pottobune membawa serta istrinya, We Tenri Sui Datu
Mario ri Wawo dan putranya La Tenri Tatta yang baru berusia sebelas
tahun. Ada lagi empat anak perempuannya, akan tetapi mereka itu
ditinggalkan dan dititipkan pada sanak keluarganya di Soppeng, karena
takut jika mereka akan mendapat cedera dalam pengasingannya. Mereka itu
ialah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;1.We
Mappolobombang, yang kemudian menjadi Maddanreng Palakka dan menikah
dengan Arungpugi atau Arung Timurung La PakkokoE Towangkone, putra Raja
Bone La Maddaremmeng;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;2.We
Tenrigirang, yang kemudian bergelar Datu Marimari dan kawin dengan
Addatuang To dani, Raja dari lima Ajangtappareng (Sidenreng Rappang,
Alitta, Sawitto, dan Suppa);&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;3.Da Eba, yang kemudian menikah dengan Datu Tanete Sultan Ismail La Mappajanci;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;4. Da Ompo&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Adapun
We Tenri Sui adalah anak Sultan Adam La Tenri Ruwa, Raja Bone ke-11
yang wafat dalam pengasingan di Bantaeng, karena ia lebih memilih
memeluk agama Islam dari pada tahta Kerajaan Bone.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dat
We Tenri Sui memberikan pula gelaran Datu Mario ri wawo kepada La Tenri
Tatta. Dengan gelaran itulah pangerang ini terkenal sehingga ia diakui
oleh Aruppitu dan rakyat Bone sebagai Arung Palakka. Suatu kedudukan
dan gelaran yang menurut adat telah diberikan kepada pangerang yang
terdekat dari tahta Kerajaan Bone. Pengakuan yang menjadikannya orang
pertama diantara semua bangsawan bone itu, diperolehnya dalam tahun
1660, menjelang perang kemerdekaan melawan Gowa, di mana ia memegang
peranan terpenting di samping To Bala.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Situasi Tahun 1646&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Apabila
dikembalikan ke situasi 1646, maka sekilas dapat digambarkan sebagai
berikut. Tawanan-tawanan perang orang Bone dan Soppeng kebanyakan
diangkut ke Gowa, di mana mereka dibagi-bagi ke antara
bangsawan-bangsawan Gowa. Arung Tana tengnga dan keluarganya jatuh ke
tangan Mangkubumi Kerajaan Gowa, I Mangadacinna Daeng Sitaba Karaeng
Pattingalloang. Ia adalah seorang yang terkenal budiman dan
berpengetahuan luas. Para tawanannya diperlakukan dengan remah-remah.
La Tenritatta dijadikannya Pembawa Puan. Karena tugas itu, maka Pangeran&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;selalu
ada di dekat beliau, sehingga tidak sedikit ia mendapat didikan dan
ilmu pengetahuan dari ucapan-ucapan serta sikap sehari-hari dari
pengendali kemaharajaan Gowa &lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;yang termasyhur sangat pandai dan bijaksana itu. Ia juga disegani oleh setiap kawan dan lawannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Di
kalangan para pemuda bangsawan Gowa, La Tenritatta terkenal dengan nama
Daeng Serang. Dengan mereka itu ia berlatih main tombak, kelewang,
pencak silat, raga,dan berbagai&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;permainan olah
raga lainnya. Dalam pertandingan-pertandingan tidak jarang Daeng Serang
menjadi juara. Konon dalam permainan raga tigak ada tandingannya di
masa itu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Menurut
berita, roman muka dan fisiknya sangatlah menarik dan mengesankan ;
dahinya tinggi, hidungnya mancung, matanya tajam menawan, dagunya tajam
alamat berkemauan keras. Tubuhnya semampai, berisi, dan kekar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Rupanya
Karaeng Pattingalloang sayang dan bangga akan pramubaktinya yang
bangsawan, gagah dan cerdas itu. Karaeng Serang dibiarkannya bergaul
dengan pemuda-pemuda lainnya bagaikan kawan sederajat dengan
pemuda-pemuda bangsawan Gowa. Bahkan diperkenalkannya kepada Sultan.
Datu Mario alias Daeng Serang telah menjadi buah tutur di antara
bangsawan-bangsawan muda dan rakyat ibukota Kerajaan Gowa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Sayang
bagi keluarga Arung Tana Tengnga, Karaeng Pattingalloang lekas wafat
yaitu pada tanggal 15 September 1654. Merekapun berganti tuan, yaitu
berpindah ke tangan Karaeng Karungrung, yang menggantikan ayahnya
sebagai Mangkubumi Kerajaan Gowa. Dia ini terkenal sebagai&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;seorang yang sangat keras tabitnya, tidak seperti ayahnya yang halus budi bahasanya dan baik hati sesamanya manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Pada
waktu itu Datu Mario telah menjelang 20 tahun usianya. Ia telah dewasa.
Akibat perlakuan tuan barunya yang jauh berbeda dengan ayahnya yang
telah meninggal, disadarinya dengan pahit akan kedudukannya sekeluarga
sebagai tawanan perang yang pada hakekatnya tidaklah berbeda dengan
kedudukan budak. Mereka tidak bebas kemana-mana, harus melakukan segala
kehendak tuannya, makan minumnya tergantung daripadanya, nasibnya
terserah sepenuhnya kepada balas kasihan atau kesewenang-wenangan&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;tuannya itu. &lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Mengenai
tawanan-tawanan lain, diantaranya terdapat beberapa orang dari Soppeng
seperti Arung Bila Daeng Mabela, Arung Belo To Sade, dan Arung
Appanang. Nasib beliau itu tidaklah lebih baik dari Datu Mario. Sejak
semula mereka menginjakkan kaki di bumi Gowa, mereka mengalami
perlakuan-perlakuan yang pahit. Tidaklah heran kalau mereka itu setiap
saat memanjatkan doa, agar tanah air mereka segera merdeka kembali dan
mereka dapat pulang kembali ke Bone bersatu dengan sanak keluarganya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dalam
pada itu rakyat Bone sendiri merintih, tertindih di bawah berbagi macam
beban yang ditimpakan oleh Kerajaan Gowa di atas kepala mereka. Jennang
To Bala tidaklah sanggup membela mereka itu. Oleh karena itu di sinipun
rakyat sedang mengimpikan turunnya seorang malaikat kemerdekaan yang
akan segera melepaskan mereka dari penderitaan perbudakan tahun 1660.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Pada
pertengahan tahun itu Jennang To Bala mendapat perintah dari Karaeng
Karungrung, supaya secepat mungkin mengumpulkan sepuluh ribu orang
laki-laki untuk dibawa segera ke Gowa menggali parit dan membangun
kubu-kubu pertahanan, di sepanjang pantai di sekitar ibukota Somba Opu.
To Bala sendiri diharuskan mengantar mereka itu ke Gowa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Pada
akhir bulan Juli tibalah Arung Tanete To Bala dengan sepuluh ribu orang
Bone di Gowa. Orang sebanyak itu diambilnya dari berbagai golongan,
lapisan, dan umur. Ada petani, nelayan, pandai kayu, ada orang
kebanyakan, budak, bahkan bangsawan, dan ada yang nampaknya masih
kanak-kanak akan tetapi tidak kurang pula yang sudah putih seluruh
rambutnya serta sudah ompong. To Bala tidaklah sempat lagi memilih
hanya orang-orang yang kuat saja, atau mereka yang sedang menganggur
saja, atau pun hanya orang kebanyakan dan hamba sahaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Mereka
membawa bekal, pacul atau linggis sendiri. Banyak di antara mereka itu
yang sakit ketika tiba di Gowa, terutama yang masih kanak-kanak atau
yang sudah terlalu tua. Mereka tidak tahan melakukan perjalanan ratusan
kilometer jauhnya, naik gunung, turun gunung, masuk hutan, keluar
hutan. Banyak yang berangkat dengan bekal yang tidak cukup karena tidak
ada waktu untuk mempersiapkannya. Mereka diambil paksa dari tempat
pekerjaannya dan dari anak istri atau orang tuanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Datu
Mario dan tawanan-tawanan perang Bone lainnya yang kesemuanya
orang-orang bangsawan mengetahui akan hal itu. Banyak di antara mereka
yang datang untuk menengok orang-orang senegerinya itu ketika mereka
baru tiba. Malahan Datu Mario sering mengawal Karaeng Karungrung,
apabial mereka pergi memeriksa kemajuan pekerjaan menggali parit dan
membangun kubu-kubu pertahanan itu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Iba
hati pangerang itu melihat penderitaan orang-orang senegerinya. Mereka
bekerja dari pagi sampai petang, hanya berhenti sedikit untuk makan
tengah&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;hari dari bekal mereka yang terdiri dari
nasi jagung dan serbuk ikan kering yang lebih banyak garam dari pada
ikannya. Sungguh sangat menyedihkan mereka itu. Apalagi waktu itu musim
kemarau, panas terik bukan kepalang di tepi pantai. Celakalah barang
siapa yang dianggap malas. Mereka didera dengan cambuk oleh
mandor-mandor yang tidak mengenal perikemanusiaan. Orang-orang yang
dikhawatirkan akan membangkang, kakinya dibelenggu (risakkala).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Karena
pekerjaan yang telampau berat itu, sedang makanan amat kurang, lagi
pula obat-obatan tidak ada, banyaklah di antara pekerja-pekerja itu
yang jatuh sakit. Kebanyakan yang sakit tidak sembuh lagi. Mereka mati
jauh dari anak istri dan ibu bapak mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Tidaklah
mengherankan, kalau di antara para pekerja yang malang itu ada yang
berusaha melarikan diri. Maka celakalah apabila ia tertangkap kembali.
Ia didera setengah mati, lalu disuruh bekerja dengan kaki terbelenggu
(risakkala) untuk waktu yang lama. Akan tetapi tidak tahan dengan
penderitaan, maka banyaklah pekerja yang melarikan diri. Mangkubumi
Karaeng Karungrung amat murka akan hal itu. Beliau berkehendak, supaya
parit-parit pertahanan di sekitar Somba Opu, Jumpandang dan Panakkukang
serta kubu-kubu pertahanan sepanjang pantai selesai November. Untuk
mengganti pelarian-pelarian yang tidak tertangkap kembali, maka
diperintahkannya semua tahanan perang pria yang ada di ibukota ikut
serta pada pekerjaan itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Datu
Mario dan bangsawan-bangsawan lain, baik yang dari Bone maupun yang
dari Soppeng turut menggali dan mengangkat tanah pada setiap harinya.
Ayah Datu Mario, karena sudah terlalu tua dan sering sakit-sakitan
dibebaskan dari pekerjaan fisik yang amat berat itu. Pada suatu hari
diawal bulan September 1660 itu, Datu Mario pulang dari menggali parit,
didapati ayahnya meninggal. Beliau dikatakan telah dibunuh pada pagi
hari itu dengan sangat kejam, karena ia mengamuk di hadapan Sri Sultan,
disebabkan karena bermata gelap, melihat beberapa orang Bone yang
disiksa sampai mati. Mereka itu adalah pelarian dari tempat penggalian
parit-parit, ditangkap kembali oleh orang Gowa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Arung
Tana Tengnga Tua, Nenek Datu Mario, beberapa tahun sebelumnya telah
pula meninggal dengan cara yang serupa. Menurut berita, beliaupun
mengamuk di depan para pembesar Kerajaan Gowa. Beliau ditangkap lalu
dibunuh dengan cara yang amat kejam pula. Datu Mario bersumpah akan
menuntut balas terhadap kematian ayah dan neneknya serta sekian banyak
orang Bone lainnya. Maka direncanakannya suatu pemberontakan secara
besar-besaran untuk melepaskan Bone dari penjajahan dan perbudakan Gowa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Pada
suatu hari dalam pertengahan bulan September itu sementara Sultan
Hasanuddin bersama dengan segala pembesar kerajaannya berpesta besar di
Tallo, Datu Mario menggerakkan semua pekerja parit orang Bone yang
hampir sepuluh ribu orang jumlahnya itu bersama dengan semua tawanan
perang dari Bone dan Soppeng melarikan diri dari Gowa. Pelarian itu
berhasil dengan gemilang di bawah pimpinan Datu Mario. Pada hari yang
keempat petang mereka tiba di Lamuru, Datu Mario segera mengirimkan
kurir kilat kepada Jennang To Bala dan Datu Soppeng untuk melaporkan
peristiwa besar itu dan mengajaknya bertemu di Attappang dekat Mampu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Beberapa
hari kemudian bertemulah Datu Soppeng La Tenri Bali, Arung Tanete To
Bala. Dan Datu Mario Latenri Tatta di Attappang. Pada pihak Datu
Soppeng ikut hadir ayahnya Lamaddussila Arung mampu dan Arung Bila.
Pada pihak To Bala hadir Arung Tibojong, Arung Ujung, dan sejumlah
besar bangsawan Bone. Bersama Datu Mario hadir pula Daeng Mabela, Arung
Belo dan Arung Appanang. Atas desakan Datu Mario dan kawan-kawannya,
Datu Soppeng segera menyetujui tawaran To Bala untuk mempersatukan Bone
dan Soppeng melawan Gowa. Perundingan berlangsung di suatu tempat yang
netral yaitu di atas rakit sungai Attapang. Oleh sebab itu persetujuan
Bone-Soppeng itu (1660) dinamai “ Pincara LopiE ri Attappang (rakit
perahu di Attappang)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Setelah
itu pulanglah mereka masing-masing ke negerinya. Datu Mario kembali ke
Lamuru menemui laskar-laskarnya, bekas penggali-penggali parit di Gowa
yang berjumlah hampir sepuluh ribu orang. Semuanya ingin memikul tombak
di bawah Datu Mario untuk menyambut orang Gowa. Akan tetapi oleh Datu
Mario diperintahkan yang sudah ubanan sama sekali dan yang belum dewasa
harus tinggal di kampung untuk membela wanita-wanita, orang tua-tua,
dan anak-anak. Para pengikut lainnya paling lambat setelah sepekan
(lima hari) sudah berkumpul kembali di Mario. Menurut perhitungan Datu
Mario, paling cepat sepekan lagi barulah laskar Gowa dapat berada di
Lamuru. Ibu dan istrinya I Mangkawani Daeng Talele telah dibawanya ke
Desa Lamatta, tempat kediaman mereka 14 tahun yang lalu sebelum
diasingkan ke Gowa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNoSpacing&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Alangkah
bahagia perasaan ibunya berada kembali di negeri leluhurnya, di
tengah-tengah rakyat yang mencintainya. Sayang sekali, Datu yang telah
tua itu tidak lama menikmati kebahagiaan itu di dunia. Oleh Yang Maha
Esa, beliau hanya diizinkan menghirup udara Lamatta sepekan lamanya.
Penderitaan selama dalam pengasingan, terlebih-lebih dalam bulan yang
terakhir setelah meninggal suaminya, ditambah keletihan dalam pelarian
dari Bontoala ke Lamuru selama empat hari empat malam sempat juga ia
menikmati berita bahagia, bahwa Aruppitu, para bangsawan dan rakyat
Bone telah mengakui putranya Datu Mario sebagai Arung Palakka. Di mana
ia sebagai ahli waris neneknya yakni Sultan Adam La Tenri Ruwa Arung
Palakka MatinroE ri Bantaeng.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Datu
Mario yang kini mulai terkenal sebagai Arung Palakka, tidaklah dapat
duduk-duduk bersantai atas kematian ibunya itu, karena telah
diterimanya kabar, bahwa laskar Gowa yang berjumlah besar telah mendaki
ke Camba untuk menuju Bone. Dalam dua hari kepala laskar itu sudah
dapat berada di Lamuru. Dengan segera dikirimnya kurir ke Soppeng dan
Bone dengan membawa berita dan meminta, supaya sebagian laskar di kirim
ke Lamuru untuk menyambut laskar Gowa di tempat itu. Pada hari yang
ketiga barulah laskar Gowa tiba di Lamuru. Petang harinya tiba pula
laskar Soppeng hampir bersamaan dengan laskar Bone. Bersatulah mereka
untuk menghadapi laskar Gowa. Kedua belah pihak sama kuat. Menurut
cerita masing-masing berkekuatan kurang lebih 11.000 orang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Raja
Gowa berusaha memisahkan orang Soppeng dari orang Bone. Baginda
mengirim utusan kepada Datu Soppeng dengan pesan, bahwa antara Gowa dan
Soppeng tidak ada perselisihan. Janganlah hendaknya orang Soppeng mau
diseret oleh orang Bone untuk masuk ke liang lahat. Peperangan ini
tidak berarti mengubur diri sendiri bagi orang&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;Bone.
Akan tetapi Datu Soppeng dan Arung Bila, ayah Daeng Mabela menjawab,
bahwa Soppeng telah bertekad akan sehidup semati dengan saudaranya Bone
berdasarkan perjanjian tiga negara (TellumpoccoE) di Timurung. Ketika
utusan menyampaikan jawaban datu Soppeng itu kepada Raja Gowa, baginda
berkata: “ Baiklah jika demikian, Soppeng rasakan serangan Gowa!”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Diperintahkannya
menyerang Soppeng dan Bone bersama-sama. Kedua belah pihak bertempur
dengan tanpa mengenal maut. Datu mario yang kini telah pula bergelar
Arung Palakka memimpin laskar yang terdiri dari orang-orang Mario,
orang-orang Palakka, dan mereka yang pernah menjadi penggali parit di
Gowa. Pada petang harinya sebuah panji orang Soppeng dapat direbut oleh
musuh. Pasukan Arung Bila telah tewas sebanyak empat puluh orang.
Untunglah malam tiba. Kedua belah pihak mundur ke markas masing-masing.
Keesokan harinya orang Bone dan Soppeng mulai menyerang laskar Gowa
terdesak mundur, terkepung oleh lawan-lawannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Tiba-tiba
Orang Soppeng mendapat berita, bahwa laskar Wajo, sekutu Gowa telah
melintasi perbatasan Soppeng – Wajo. Negeri-negeri yang mereka lalui
habis dibakar. Datu Soppeng memerintahkan laskarnya berbalik
meninggalkan medan pertempuran lamuru untuk kembali menghadapi laskar
wajo. Akan tetapi laskarnya telah letih, sedangkan laskar wajo masih
segar dan jumlahnya pun lebih besar. Setelah bertempur berhari-hari
laskar Soppeng menyerah. Arung Bila Tua ayah Daeng Mabela lari
menyingkir ke pegunungan Letta. Putrinya We Dimang menyingkir ke arah
timur dikawal oleh adiknya, yakni Daeng Mabela. Ibunya dengan dikawal
oleh Arung Appanang menyingkir ke Mampu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Laskar
Bone setelah ditinggalkan oleh laskar Soppeng, mundur teratur masuk ke
daerah Bone Utara. Dikejar dari belakang oleh laskar Gowa. Mampu,
Timurung, dan Sailong menjadilah medan perang. Sial bagi orang Bone
laskar wajo yang telah selesai tugasnya di Soppeng karena laskar
Soppeng telah menyerah, kini bersatu dengan laskar Gowa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Namun
orang Bone tidaklah putus asa. To Bala dan Arung Palakka selalu berada
di garis depan. Seolah-olah mereka sengaja mencari maut. Sikap kedua
orang panglimanya membakar semangat orang-orang Bone sehingga mereka
berkelahi pula dengan tidak mengindahkan maut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Pertempuran
ini tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang akhirnya keduanya
berdamai. Dalam proses perang dan damai antara kedua kerajaan besar di
Sulawesi Selatan ini, yaitu antara Gowa dan Bone. Maka akhirnya Datu
Mario Arung palakka La Tenri Tatta Petta Malampe’E Gemme’na pada
tanggal 6 April 1698 di dalam istananya di Bontoala dengan amanatnya
sebelum wafat, supaya Baginda di makamkan di Bukit Bontobiraeng dalam
wilayah kerajaan Gowa. Juga permaisuri baginda yang teamat dicintainnya
I Mangkawani Daeng Talele dan telah ikut bersama Baginda mengalami suka
duka perjuangannya, turut pula dimakamkan di tempat itu sesuai dengan
amanat baginda Arung Palakka sendiri. (Sumber : Ensiklopedia Sejarah
Sulawesi Selatan samapai tahun 1905).&lt;br&gt;(Ditulis Oleh : Mursalim, S.Pd., M.Si.)&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a href=&quot;http://telukbone.blogspot.com/2008/03/arung-palakka.html&quot;&gt; Selengkapnya...&lt;/a&gt;</content:encoded>
			<link>https://telukbone.ucoz.net/blog/2008-11-26-17</link>
			<category>Sejarah</category>
			<dc:creator>telukbone</dc:creator>
			<guid>https://telukbone.ucoz.net/blog/2008-11-26-17</guid>
			<pubDate>Wed, 26 Nov 2008 19:22:37 GMT</pubDate>
		</item>
		<item>
			<title>Pusaka Kerajaan Bone</title>
			<description>&lt;div class=&quot;post-body entry-content&quot;&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;&quot;&gt;Pusaka Teddung Pulaweng (Payung Emas)&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;http://bp0.blogger.com/_j4KnP5YS-fM/R8WvoOrl28I/AAAAAAAAAEI/5WzUES8q4tY/s1600-h/arrajange1.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;&quot; src=&quot;http://bp0.blogger.com/_j4KnP5YS-fM/R8WvoOrl28I/AAAAAAAAAEI/5WzUES8q4tY/s320/arrajange1.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5171732852775443394&quot; border=&quot;0&quot;&gt;&lt;/a&gt;Merupakan
Pusaka yang terbuat dari Emas juga disebut sebagai ArajengngE , sebagai
tanda persaudaraan dari Raja Pariaman kepada Raja Bone XV Latenri Tatta
Arung Palakka. Pusaka ini tersimpan di Museum Arajang Kabupaten Bone.&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;&quot;&gt;Keris Pusaka Lamakkawa&lt;/span&gt;&lt;br&gt;...</description>
			<content:encoded>&lt;div class=&quot;post-body entry-content&quot;&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;&quot;&gt;Pusaka Teddung Pulaweng (Payung Emas)&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;http://bp0.blogger.com/_j4KnP5YS-fM/R8WvoOrl28I/AAAAAAAAAEI/5WzUES8q4tY/s1600-h/arrajange1.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;&quot; src=&quot;http://bp0.blogger.com/_j4KnP5YS-fM/R8WvoOrl28I/AAAAAAAAAEI/5WzUES8q4tY/s320/arrajange1.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5171732852775443394&quot; border=&quot;0&quot;&gt;&lt;/a&gt;Merupakan
Pusaka yang terbuat dari Emas juga disebut sebagai ArajengngE , sebagai
tanda persaudaraan dari Raja Pariaman kepada Raja Bone XV Latenri Tatta
Arung Palakka. Pusaka ini tersimpan di Museum Arajang Kabupaten Bone.&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;&quot;&gt;Keris Pusaka Lamakkawa&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Merupakan
Pusaka kerajaan pada abad XVI, ketika itu Rajanya adalah Raja Bone XV
yakni Arung Palakka. Oleh Raja XV digunakan sebagai salah satu senjata
dalam menghadapi setiap peperangan. (Gambar 1)&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;http://bp0.blogger.com/_j4KnP5YS-fM/R8WwcOrl2-I/AAAAAAAAAEY/vJ02rDR4j68/s1600-h/arrajange3.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 152px; height: 118px;&quot; src=&quot;http://bp0.blogger.com/_j4KnP5YS-fM/R8WwcOrl2-I/AAAAAAAAAEY/vJ02rDR4j68/s320/arrajange3.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5171733746128640994&quot; border=&quot;0&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);&quot;&gt;Pedang Pusaka Latenri Duni&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Merupakan
Pusaka Kerajaan pada masa Kerajaan Raja Bone XV Arung Palakka. Pada
masa itu di abad XVI oleh Raja Bone XV Arung Palakka sering menggunakan
pusaka ini sebagai senjata dalam menghadapi perang. (Gambar 2)&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);&quot;&gt;Pusaka Salempang Kerajaan&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;http://bp2.blogger.com/_j4KnP5YS-fM/R8WwBurl29I/AAAAAAAAAEQ/ncC_BcJJKAs/s1600-h/arrajange2.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 179px; height: 144px;&quot; src=&quot;http://bp2.blogger.com/_j4KnP5YS-fM/R8WwBurl29I/AAAAAAAAAEQ/ncC_BcJJKAs/s320/arrajange2.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5171733290862107602&quot; border=&quot;0&quot;&gt;&lt;/a&gt;Pusaka
ini merupakan Salempang Emas, ia memperlihatkan seuntaian padi yang
menunjukkan pertanda Jiwa Sang Raja akan selalu bersatu dengan
rakyatnya. Salempang pusaka ini dipakai dalam setiap Pelantikan
Raja-raja Bone.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);&quot;&gt;Tombak dan Senjata Adat&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;http://bp3.blogger.com/_j4KnP5YS-fM/R8WyS-rl2_I/AAAAAAAAAEg/M3xBX6BU5dU/s1600-h/arrajange4.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;&quot; src=&quot;http://bp3.blogger.com/_j4KnP5YS-fM/R8WyS-rl2_I/AAAAAAAAAEg/M3xBX6BU5dU/s320/arrajange4.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5171735786238106610&quot; border=&quot;0&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pusaka
tersebut di atas, dalam masa pemerintahan Raja-raja di Tanah Bone
merupakan bagian syarat perlengkapan utama dalam setiap pelantikan raja
Bone, sebagaimana yang dijelaskan di dalam Lontara “ NAIYYA TANRANNA
MANGKAUE RI BONE, IYANARITU TAPPIENGNGI LAMAKKAWA, NAPPADUANGNGI LATEA
RI DUNI, NAKKATENNINGNGI LASALAGA, MAPPANGARA RI CALOKO, NAPAJUNGI
PAJUNG PULAWENGNGE” yang berarti : Adapun yang menjadi tanda Mangkau
(Raja) Bone ialah yang memakai Lamakkawa dan Latenrii Duni, bertongkat
dengan Tombak Lasalaga, Mengambil Hasil Sawah Lacaloko, dan dipayungi
Payung Emas.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</content:encoded>
			<link>https://telukbone.ucoz.net/blog/2008-11-26-16</link>
			<category>Sejarah</category>
			<dc:creator>telukbone</dc:creator>
			<guid>https://telukbone.ucoz.net/blog/2008-11-26-16</guid>
			<pubDate>Wed, 26 Nov 2008 19:17:51 GMT</pubDate>
		</item>
		<item>
			<title>Pesta Kirab Kerajaan Bone</title>
			<description>&lt;div class=&quot;post-body entry-content&quot;&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam
sejarah Sulawesi Selatan, Kerajaan Bone merupakan kerajaan besar,
tangguh dan disegani pada masa lampau. Bukti-bukti kebesarannya
terdapat dalam manuskrip-manuskrip kuno disebut lontara dan ada yang
terhimpun dalam sebuah &lt;b&gt;buku ”Latoa” &lt;/b&gt;berisikan
tata aturan pemerintah dan pranata kehidupan kemasyarakatan Kerajaan
Bone. Selain itu terdapat beberapa tanda-tanda pusaka kerajaan yang
masih terawat dan tersimpan baik di Rumah Jabatan Bupati Bone (bekas
Saoraja atau Istana Raja Bone), serta benda-benda kuno lainnya disimpan
di Museum Lapawawoi yang juga merupakan Saoraja (Istana Raja Bone).&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt; &lt;br&gt;Kirab
Kerajaan Bone adalah untuk menunjukkan keberadaan kejayaan Kerajaan
Bone masa lalu. Kirab Kebesaran Kerajaan Bone terdiri dari :&lt;br&gt;a. Kelompok Laskar : 41 (empat puluh satu) orang&lt;br&gt;b. Kelompok Adat : 108 (seratus delapan) orang&lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kirab Kebesaran Kerajaa...</description>
			<content:encoded>&lt;div class=&quot;post-body entry-content&quot;&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam
sejarah Sulawesi Selatan, Kerajaan Bone merupakan kerajaan besar,
tangguh dan disegani pada masa lampau. Bukti-bukti kebesarannya
terdapat dalam manuskrip-manuskrip kuno disebut lontara dan ada yang
terhimpun dalam sebuah &lt;b&gt;buku ”Latoa” &lt;/b&gt;berisikan
tata aturan pemerintah dan pranata kehidupan kemasyarakatan Kerajaan
Bone. Selain itu terdapat beberapa tanda-tanda pusaka kerajaan yang
masih terawat dan tersimpan baik di Rumah Jabatan Bupati Bone (bekas
Saoraja atau Istana Raja Bone), serta benda-benda kuno lainnya disimpan
di Museum Lapawawoi yang juga merupakan Saoraja (Istana Raja Bone).&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt; &lt;br&gt;Kirab
Kerajaan Bone adalah untuk menunjukkan keberadaan kejayaan Kerajaan
Bone masa lalu. Kirab Kebesaran Kerajaan Bone terdiri dari :&lt;br&gt;a. Kelompok Laskar : 41 (empat puluh satu) orang&lt;br&gt;b. Kelompok Adat : 108 (seratus delapan) orang&lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kirab Kebesaran Kerajaan Bone didukung oleh 149 orang peserta.
Sebenarnya pada Zaman Kerajaan setiap kelompok pasukan berjumlah 40
orang, dan apabila akan diperagakan sebagaimana halnya pada zaman
Kerajaan maka, Kirab ini akan didukung sekitar 700 (tujuh ratus) orang.
Apa yang ditampilkan dalam Kirab ini sudah sesuai dengan tata aturan
Kerajaan, hanya personil setiap kelompok dikurangi.&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; Pakaian yang dikenakan oleh peserta, juga dengan ketentuan adat yang berlaku pada zaman kerajaan&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;img style=&quot;width: 140px; height: 97px;&quot; src=&quot;http://bone.go.id/boneimg/pariwisata/kirab-kerajaan.jpg&quot; mce_src=&quot;http://bone.go.id/boneimg/pariwisata/kirab-kerajaan.jpg&quot; alt=&quot;&quot; align=&quot;left&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 0, 0);&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 0, 0);&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 0, 0);&quot;&gt;Kirab Kerajaan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;img style=&quot;width: 138px; height: 101px;&quot; src=&quot;http://bone.go.id/boneimg/pariwisata/maggiri.jpg&quot; mce_src=&quot;http://bone.go.id/boneimg/pariwisata/maggiri.jpg&quot; alt=&quot;&quot;&gt;&lt;br&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 0, 0);&quot;&gt;Tari Maggiri &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tari
ini menggunakan senjata tajam sesungguhnya kemudian para penari
menusukkan ke tubuhnya, dengan mantra bahasa to langi tubuh para penari
tidak termakan senjata tajam.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;</content:encoded>
			<link>https://telukbone.ucoz.net/blog/2008-11-26-15</link>
			<category>Sejarah</category>
			<dc:creator>telukbone</dc:creator>
			<guid>https://telukbone.ucoz.net/blog/2008-11-26-15</guid>
			<pubDate>Wed, 26 Nov 2008 19:12:41 GMT</pubDate>
		</item>
		<item>
			<title>Riwayat Kabupaten Bone</title>
			<description>&lt;div class=&quot;post-body entry-content&quot;&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span&gt;Bone dahulu disebut &lt;strong&gt;&lt;span&gt;TANAH BONE&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;. Berdasarkan &lt;span&gt;LONTARAK &lt;/span&gt;bahwa nama asli Bone&lt;/span&gt;&lt;span&gt; adalah PASIR, dalam bahasa bugis dinamakan Bone adalah &lt;strong&gt;&lt;span&gt;KESSI (pasir)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span&gt;. &lt;/span&gt;Dari sinilah asal&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;usul sehingga dinamakan &lt;span&gt;BONE&lt;/span&gt;. Adapun bukit pasir yang dimaksud kawasan Bone&lt;/span&gt;&lt;span&gt; sebenarnya adalah lokasi Bangunan Mesjid Raya sekarang &lt;/span&gt;&lt;span&gt;ini &lt;/span&gt;&lt;span&gt;letaknya persis di Jantung Kota&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Watampone Ibu Kota Kabupaten Bone tepatnya di Kelurahan Bukaka.&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Kabupaten Bone adalah Suatu Kerajaan besar di Sulawesi Selatan yaitu sejak&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;adanya &lt;strong&gt;&lt;span&gt;ManurungngE Ri Matajang &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;pada awal abad XIV atau pada tahun 1330.&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;ManurungngE Ri Matajang &lt;/span&gt;&lt;span&gt;bergelar &lt;span&gt;MATA SILOMPO’E &lt;/sp...</description>
			<content:encoded>&lt;div class=&quot;post-body entry-content&quot;&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span&gt;Bone dahulu disebut &lt;strong&gt;&lt;span&gt;TANAH BONE&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;. Berdasarkan &lt;span&gt;LONTARAK &lt;/span&gt;bahwa nama asli Bone&lt;/span&gt;&lt;span&gt; adalah PASIR, dalam bahasa bugis dinamakan Bone adalah &lt;strong&gt;&lt;span&gt;KESSI (pasir)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span&gt;. &lt;/span&gt;Dari sinilah asal&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;usul sehingga dinamakan &lt;span&gt;BONE&lt;/span&gt;. Adapun bukit pasir yang dimaksud kawasan Bone&lt;/span&gt;&lt;span&gt; sebenarnya adalah lokasi Bangunan Mesjid Raya sekarang &lt;/span&gt;&lt;span&gt;ini &lt;/span&gt;&lt;span&gt;letaknya persis di Jantung Kota&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Watampone Ibu Kota Kabupaten Bone tepatnya di Kelurahan Bukaka.&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Kabupaten Bone adalah Suatu Kerajaan besar di Sulawesi Selatan yaitu sejak&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;adanya &lt;strong&gt;&lt;span&gt;ManurungngE Ri Matajang &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;pada awal abad XIV atau pada tahun 1330.&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;ManurungngE Ri Matajang &lt;/span&gt;&lt;span&gt;bergelar &lt;span&gt;MATA SILOMPO’E &lt;/span&gt;sebagai Raja Bone Pertama&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;memerintah pada Tahun 1330 – 1365. Selanjutnya digantikan Turunannya secara turun&lt;/span&gt;&lt;span&gt; temurun hingga berakhir Kepada &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;ANDI PABBENTENG&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span&gt;sebagai Raja Bone ke– 3&lt;/span&gt;&lt;span&gt;3&lt;/span&gt;&lt;span&gt; Diantara ke – 3&lt;/span&gt;&lt;span&gt;3&lt;/span&gt;&lt;span&gt; Orang Raja yang telah memerintah sebagai Raja Bone dengan gelar&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;MANGKAU&lt;/span&gt;&lt;span&gt;, terdapat 7 (tujuh) orang Wanita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Struktur Pemerintahan Kerajaan Bone dahulu terdiri dari :&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;• &lt;strong&gt;ARUNG PONE &lt;/strong&gt;&lt;span&gt;(Raja Bone) &lt;/span&gt;bergelar MANGKAU&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;• &lt;strong&gt;MAKKEDANGNGE TANAH &lt;/strong&gt;( &lt;span&gt;Bertugas dalam bidang hubungan/urusan dengan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;kerajaan lain (Menteri Luar Negeri)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;• &lt;strong&gt;TOMARILALENG &lt;/strong&gt;&lt;span&gt;(Bertugas dalam Bidang urusan dalam daerah Kerajaan lain&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;(Meteri dalam Negeri)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;• &lt;strong&gt;ADE PITU &lt;/strong&gt;&lt;span&gt;(Hadat Tujuh)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;Terdiri dari Tujuh orang, merupakan Pembantu Utama/Pemimpin&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Pemerintahan di Kerajaan Bone, masing-masing :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;1. ARUNG UJUNG&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;Bertugas mengepalai Urusan Penerangan Kerajaan Bone.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;2. ARUNG PONCENG&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;Bertugas mengepalai Urusan Kepolisian/Kejaksaan dan Pemerintaha.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;3. ARUNG T A’&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;Bertugas mengepalai Urusan Pendidikan, dan mengetuai Urusan perkara&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Sipil.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;4. ARUNG TIBOJONG&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;Bertugas mengepalai Urusan perkara/Pengadilan Landschap/ badat besar&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;dan mengawasi urusan perkara Pengadilan Distrik/ badat kecil.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;5. ARUNG TANETE RIATTANG&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;Bertugas mengepalai memegang Kas Kerajaan, mengatur Pajak&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;dan Pengawasan Keuangan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;6. ARUNG TANETE RIAWANG&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;Bertugas mengepalai Pekerjaan Negeri &lt;span&gt;(Landschap Werken-LW) &lt;/span&gt;Pajak&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Jalan dan Pengawas Opzichter.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;7. ARUNG MACEGE&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;Bertugas mengepalai Urusan Pemerintahan Umum dan Perekonomian.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;•&lt;strong&gt;PONGGAWA &lt;span&gt;(Panglima Perang )&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span&gt;Bertugas dibidang Pertahanan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Kerajaan Bone dengan membawahi 3 (tiga) perangkat masing-masing :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;1. ANREGURU ANAKARUNG&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;Bertugas mengkoordinir para anak Bangsawan berjumlah 40 (Empat puluh)&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;orang bertugas sebagai pasukan elit Kerajaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;2. PANGULU JOA&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;Bertugas mengkoordinir pasukan dari rakyat Tana Bone yang disebut&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Passiuno &lt;/span&gt;&lt;span&gt;artinya : pasukan siap tempur dimedan perang setiap saat; rela&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;mengorbankan jiwa raganya demi tegaknya Kerajaan Bone dari gangguan&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Kerajaan lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;3.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span&gt; &lt;strong&gt;&lt;span&gt;DULUNG &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;(&lt;span&gt;Panglima Daerah)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;Bertugas mengkoordinir daerah Kerajaan bawahan, di Kerajaan Bone&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;terdapat 2 (dua) &lt;strong&gt;Dulung &lt;/strong&gt;(&lt;span&gt;Panglima Daerah) &lt;/span&gt;yakni &lt;strong&gt;Dulungna Ajangale &lt;/strong&gt;dari&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;kawasan Bone Utara dan &lt;strong&gt;Dulungna Awang Tangka &lt;/strong&gt;dari Bone Selatan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;•&lt;strong&gt;JENNANG &lt;span&gt;(Pengawas)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;Berfungi mengawasi para Petugas yang menangani bidang pengawasan baik&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;dalam lingkungan istana, maupun dengan daerah/ kerajaan bawahan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;•&lt;strong&gt;KADHI &lt;span&gt;(Ulama) &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span&gt;Perangkatnya terdiri dari Imam, Khatib, Bilal&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;, d&lt;/span&gt;&lt;span&gt;an lain-lain, bertugas sebagai Penghulu Syara dalam Bidang Agama Islam,&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Keberadaan Kadhi (Ulama) di Kerajaan Bone ini senantiasa bekerja sama demi&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;kemaslahatan rakyat, bahkan Raja Bone(Mangkau) meminta Fatwa kepada&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Kadhi khususnya menyangkut hukum islam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;•&lt;strong&gt;BISSU &lt;span&gt;( Waria) &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span&gt;Bertugas merawat benda – benda Kerajaan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Disamping melaksanakan pengobatan tradisional, juga bertugas dalam&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;kepercayaan kepada Dewata SeuuwaE. Setelah masuknya Agama Islam di&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Kerajaan Bone, kedudukan Bissu di non aktifkan.&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Waktu bergulir terus maka pada tahun 1905 Kerajaan Bone di kuasai oleh Penjajah&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Belanda. Kemudian atas persetujuan &lt;strong&gt;Dewan Ade PituE Ri Bone &lt;/strong&gt;nama &lt;span&gt;LALENG BATA&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;sebagai Ibu Kota Kerajaan Bone diganti namanya menjadi &lt;span&gt;WATAMPONE &lt;/span&gt;sampai sekarang.&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Pada tanggal 2 Desember 1905 oleh Pemerintah Belanda di Jakarta menetapkan bahwa&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;adapun pengertian &lt;span&gt;TELLUMPOCCOE &lt;strong&gt;( Tri Aliansi) &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;di Sulawesi Selatan ialah : Bone, Wajo&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;dan Soppeng. Disatukan dalam satu sistem pemerintahan yang dinamakan &lt;span&gt;AFDELING&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Dimana Afdeling Bone dibagi menjadi 3 (tiga) bagian dengan nama &lt;strong&gt;Onder Afdeling &lt;/strong&gt;masing&lt;/span&gt;&lt;span&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span&gt;masing&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;1. Onder Afdeling Bone Utara Ibu Kotanya Pompanua, Ibu kota&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Afdeling ini ditempati oleh Asisten Residen.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;2. Onder Afdeling Bone Tengah Ibu Kotanya Watampone di&lt;/span&gt;&lt;span&gt;p&lt;/span&gt;&lt;span&gt;erintah oleh Controler.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;3. Onder Afdeling Bone Selatan Ibu kotanya Mare diperintah Oleh&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Aspiran Controler.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;Pada tahun 1944 ketika tentara Jepang semakin terdesak oleh Sekutu,Jepang&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;berusaha mengajak rakyat untuk membela Tanah Airnya. Jika di Pulau Jawa dan&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;daerah lainnya terbentuk oleh suatu Wadah untuk menghimpun rakyat untuk mencapai&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Kemerdekaan, maka di Tana Bone dibentuk suatu Organisasi yang dikenal dengan nama&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;SAUDARA &lt;/span&gt;&lt;span&gt;kepanjangan dari &lt;span&gt;SUMBER DARAH RAKYAT.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;SAUDARA &lt;/span&gt;&lt;span&gt;ini dibentuk adalah merupakan persiapan Badan persetujuan yang&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;sesungguhnya berjuang untuk mencegah kembali penjajahan Belanda di Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Kabupaten Bone setelah lepas dari Pemerintahan Kerajaan, sampai saat ini&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;tercatat 13 (tiga belas) Kepala Daerah di beri kepercayaan untuk mengembang amanah&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;pemerintahan di Kabupaten Bone masing-masing :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;1. Andi Pangeran Petta Rani&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;Kepala Afdeling/ Kepala Daerah Tahun 1951 sampai dengan tanggal 19 Maret&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;1955.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;2. Ma’Mun Daeng Mattiro&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;Kepala Daerah tanggal 19 Maret 1955 sampai dengan 21 Desember 1957.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;3. H.Andi Mappanyukki&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;Kepala Daerah/ Raja Bone tanggal 21 Desember 1957 sampai dengan 21 1960.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;4. Kol. H.Andi Suradi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;Kepala Daerah tanggal 21 M e i l960 sampai dengan 01 Agustus 1966.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;5. Andi Baso Amir&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;Kapala Daerah Tanggal 02 Maret 1967 sampai dengan 18 Agustus 1970.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;6. Kol. H. Suaib&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;Bupati Kepala Daerah tanggal 18 – 08 - 1970 sampai dengan 13 Juli 1977.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;7. Kol.H.P.B.Harahap&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;Bupati Kepala Daerah tanggal 13 Juli 1977 sampai dengan 22 Pebruari 1982.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;8. Kol.H.A.Made Alie&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;PGS Bupati Kepala Daerah tanggal 22 Pebruari 1982 sampai dengan 6 April 1982 sampai&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;dengan 28 Maret 1983.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;9. Kol.H.Andi Syamsul Alam&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;Bupati Kepala Daerah tanggal 28 Maret 1983 sampai dengan 06 April 1988.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;10. Kol.H.Andi Sjamsul Alam&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;Bupati Kepala Daerah tanggal 06 April 1988 sampai dengan 17 April l993.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;11. Kol. H.Andi Amir&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;Bupati Kepala Daerah tanggal 17 April 1993 Sampai 2003&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;12. H. A. Muh. Idris Galigo,SH&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;Bupati Kepala Daerah tahun 2003 Sampai Sekarang&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;GAMBARAN UMUM KABUPATEN DAERAH TINGKAT II BONE&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoListParagraph&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;A.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;SEJARAH BERDIRINYA KABUPATEN BONE&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;Kerajaan Tana Bone dahulu terbentuk pada awal abad ke- IV atau pada tahun&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;1330, namun sebelum Kerajaan Bone terbentuk sudah ada kelompok-kelompok dan&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;pimpinannya digelar &lt;span&gt;KALULA&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Dengan datangnya &lt;span&gt;TO MANURUNG &lt;/span&gt;( Manurungge Ri Matajang ) diberi gelar MATA&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;SILOMPO-E. maka terjadilah penggabungan kelompok-kelompok tersebut termasuk&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Cina, Barebbo, Awangpone dan Palakka. Pada saat pengangkatan TO MANURUNG MATA&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;SILOMPO- E menjadi Raja Bone, terjadilah kontrak pemerintahan berupa sumpah setia&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;antara rakyat Bone dalam hal ini diwakili oleh penguasa Cina dengan 10 MANURUNG ,&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;sebagai tanda serta lambang kesetiaan kepada Rajanya sekaligus merupakan&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;pencerminan corak pemerintahan Kerajaan Bone diawal berdirinya. Disamping&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;penyerahan diri kepada Sang Raja juga terpatri pengharapan rakyat agar supaya&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;menjadi kewajiban Raja untuk menciptakan keamanan, kemakmuran, serta&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;terjaminnya penegakan hukum dan keadilan bagi rakyat.&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Adapun teks Sumpah yang diucapkan oleh penguasa Cina mewakili rakyat Bone&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;berbunyi sebagai berikut ;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;“ ANGIKKO KURAUKKAJU RIYAAOMI’RI RIYAKKENG&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;KUTAPPALIRENG ELOMU ELO RIKKENG ADAMMUKKUWA MATTAMPAKO&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;KILAO.. MALIKO KISAWE. MILLAUKO KI ABBERE.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;MUDONGIRIKENG TEMMATIPPANG. MUAMPPIRIKKENG&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;TEMMAKARE. MUSALIMURIKENG TEMMADINGING “&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Terjemahan bebas ;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;“ ENGKAU ANGIN DAN KAMI DAUN KAYU, KEMANA BERHEMBUS KESITU&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;KAMI MENURUT KEMAUAN DAN&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;KATA-KATAMU YANG JADI DAN BERLAKU ATAS KAMI, APABILA ENGKAU&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;MENGUNDANG KAMI MENYAMBUT&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;DAN APABILA ENGKAU MEMINTA KAMI MEMBERI, WALAUPUN ANAK&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;ISTRI KAMI JIKA TUANKU TIDAK SENANGI KAMIPUN TIDAK&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;MENYENANGINYA, TETAPI ENGKAU MENJAGA KAMI AGAR TENTRAM,&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;ENGKAU BERLAKU ADIL MELINDUNGI AGAR KAMI MAKMUR&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;DAN SEJAHTERA ENGKAU SELIMUTI KAMI AGAR TIDAK KEDINGINAN ‘&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;Budaya masyarakat Bone demikian Tinggi mengenai sistem norma atau adat&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;berdasarkan Lima unsur pokok masing-masing : Ade, Bicara, Rapang, Wari dan Sara&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;yang terjalin satu sama lain, sebagai satu kesatuan organis dalam pikiran masyarakat&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;yang memberi rasa harga diri serta martabat dari pribadi masing-masing. Kesemuanya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;itu terkandung dalam satu konsep yang disebut “ SIRI “merupakan integral dari ke&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Lima unsur pokok tersebut diatas yakni pangadereng ( Norma adat), untuk&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;mewujudkan nilai pangadereng maka rakyat Bone memiliki sekaligus mengamalkan&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;semangat/budaya ;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;SIPAKATAU&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span&gt;artinya : Saling memanusiakan , menghormati / menghargai harkat dan martabat&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;kemanusiaan seseorang sebagai mahluk ciptaan ALLAH tanpa membeda - bedakan,&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span&gt;siapa saja orangnya harus patuh dan taat terhadap norma adat/hukum yang berlaku&lt;/span&gt;&lt;span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;SIPAKALEBBI&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span&gt;artinya : Saling memuliakan posisi dan fungsi masing-masing dalam struktur&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;kemasyarakatan dan pemerintahan, senantiasa berprilaku yang baik sesuai dengan adat&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span&gt;dan budaya yang berlaku dalam masyarakat&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;SIPAKAINGE&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span&gt;artinya: Saling mengingatkan satu sama lain, menghargai nasehat, pendapat orang lain,&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span&gt;manerima saran dan kritikan positif dan siapapun atas dasar kesadaran bahwa sebagai&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span&gt;manusia biasa tidak luput dari kekhilafan&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Dengan berpegang dan berpijak pada nilai budaya tersebut diatas, maka system&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;pemerintahan Kerajaan Bone adalah berdasarkan musyawarah mufakat. Hal ini dibuktikan&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;dimana waktu itu kedudukan ketujuh Ketua Kaum ( Matoa Anang ) dalam satu majelis&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;dimana MenurungE sebagai Ketuanya&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Ketujuh Kaum itu diikat dalam satu ikatan persekutuan yang disebut KAWERANG,&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;artinya Ikatan Persekutuan Tana Bone. Sistem Kawerang ini berlangsung sejak ManurungE&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;sebagai Raja Bone pertama hingga Raja Bone ke IX yaitu LAPPATAWE MATINROE RI&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;BETTUNG pada akhir abad ke XVI&lt;/span&gt;&lt;span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;Pada tahun 1605 Agama Islam masuk di Kerajaan Bone dimasa pemerintahan Raja&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Bone ke X LATENRI TUPPU MATINROE RI SIDENRENG. Pada masa itu pula sebuatan Matoa&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Pitu diubah menjadi Ade Pitu ( Hadat Tujuh ), sekaligus sebutan MaTOA MENGALAMI PULA&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;PERUBAHAN MENJADI Arung misalnya Matua Ujung disebut Arung Ujung dan seterusnya&lt;/span&gt;&lt;span&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Demikian perjalanan panjang Kerajaan Bone, maka pada bulan Mei 1950 untuk&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;pertama kalinya selama Kerajaan Bone terbentuk dan berdiri diawal abad ke XIV atau&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;tahun 1330 hingga memasuki masa kemerdekaan terjadi suatu demonstrasi rakyat dikota&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Watampone yaitu menuntut dibubarkannya Negara Indonesia Timur, serta dihapuskannya&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;pemerintahan Kerajaan dan menyatakan berdiri dibelakang pemerintah Republik Indonesia&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Beberapa hari kemudian para anggota Hadat Tujuh mengajukan permohonan&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;berhenti. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;Disusul pula beberapa tahun kemudian terjadi perubahan nama distrik/onder&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;distrik menjadi KECAMATAN sebagaimana berlaku saat ini.&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Pada tanggal 6 April 1330 melalui rumusan hasil seminar yang diadakan pada tahun&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;1989 di Watampone dengan diperkuat Peraturan Daerah Kabupaten Dati II Bone No.1&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Tahun 1990 Seri C, maka ditetapkanlah tanggal 6 April 1330 sebagai HARI JADI KABUPATEN&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;BONE dan diperingati setiap tahun .&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;B. LETAK GEOGRAFI DAN POTENSI WILAYAH&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;Daerah Kabupaten Bone merupakan salah satu Kabupaten yang terdapat di&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Propinsi Sulawesi Selatan, secara Geografis letaknya sangat strategis karena adalah pintu&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;gerbang pantai timur Sulawesi Selatan yang merupakan pantai Barat Teluk Bone memiliki&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;garis pantai yang cukup panjang membujur dari Utara ke Selatan menelusuri Teluk Bone&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;tepatnya 174 Kilometer sebelah Timur Kota Makassar, luas wilayah Kabupaten Bone 4,556&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;KM Bujur Sangkar atau sekitar 7,3 persen dari luas Propinsi Sulawesi Selatan, didukung 27&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Kecamatan, 335 Desa dan 39 Kelurahan, dengan jumlah penduduk 648,361 Jiwa&lt;/span&gt;&lt;span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Kabupaten Bone berbatasan dengan daerah-daerah sebagai berikut ;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;- Sebelah Utara Kabupaten Wajo&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;- Sebelah Selatan Kabupaten Sinjai&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;- Sebelah Barat Kabupaten Soppeng, Maros, Pangkep dan Barru&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;- Sebelah Timur adalah Teluk Bone yg menghubungkan Propinsi SulawesiTenggara&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Untuk jelasnya 27 Kecamatan di Kabupaten Bone dicantumkan sebagai berikut ;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;1. Kecamatan Tanete Riattang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;2. Kecamatan Tanete Riattang Barat&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;3. Kecamatan Tanete Riattang Timur&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;4. Kecamatan Palakka&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;5. Kecamatan Awangpone&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;6. Kecamatan SibuluE&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;7. Kecamatan Barebbo&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;8. Kecamatan Ponre&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;9. Kecamatan C&lt;/span&gt;&lt;span&gt;ina&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;10. Kecamatan M&lt;/span&gt;&lt;span&gt;are&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;11. Kecamatan Tonra&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;12. Kecamatan Salomekko&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;13. Kecamatan Patimpeng&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;14. Kecamatan Kajuara&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;15. Kecamatan K&lt;/span&gt;&lt;span&gt;ahu&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;16. Kecamatan Bontocani&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;17. Kecamatan Libureng&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;18. Kecamatan Lappariaja&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;19. Kecamatan Bengo&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;20. Kecamatan Lamuru&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;21. Kecamatan Tellu LimpoE&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;22. Kecamatan Ulaweng&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;23. Kecamatan Amali&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;24. Kecamatan Ajangale&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;25. Kecamatan Dua BoccoE&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;26. Kecamatan Tellu SiattingE&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;27. Kecamatan Cenrana&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;img style=&quot;width: 269px; height: 326px;&quot; src=&quot;http://www.bone.go.id/boneimg/imgisi/peta_bone.jpg&quot; alt=&quot;&quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;C. TOPOGRAFI DAN PEMANFAATAN LAHAN&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;Kalau kita amati Kabupaten Bone termasuk daerah tiga demensi yaitu ; Pantai,&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Daratan dan Pegunungan, luas sawah sebagai lahan pertanian adalah 455.600 Ha, sehingga&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Kabupaten Bone ditetapkan sebagai daerah penyangga beras untuk Propinsi Sulawesi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;Selatan yang biasa dikenal dengan istilah BOSOWA SIPILU singkatan dari Bone, Soppeng,&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Wajo, Sidrap, Pinrang dan Luwu, begitu pula daerah pantainya sangat panjang membujur&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;dari Utara ke Selatan yang menyusuri Teluk Bone dari 27 Kecamatan yang ada di&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Kabupaten Bone, 9 diantaranya adalah masuk daerah pantai seperti Kecamatan Cenrana,&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Tellu SiantingE, Awangpone, Tanette Riattang Timur, SibuluE, Mare, Tonra, Salomekko dan&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Kajuara, dengan demikian sumber mata pencaharian penduduk Kabupaten Bone sebagaian&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;besar adalah Petani dan Nelayan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Pemanfaatan lahan ;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;- Sawah : 455.600 Ha&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;- Kebun / Tegalan : 55.052 Ha&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;- Hutan : 162.995 Ha&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;- Tambak : 1.450 Ha&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;D. ADMINISTRASI PEMERINTAHAN BONE DIERA OTODA&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;Otonomi daerah yang sebagaimana digariskan oleh Undang – Undang No. 22 Tahun&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span&gt;1999 yang secara efektif diberlakukan pada 1 Januari 2001, memang akan menyita&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;berbagai pemikiran bagi pemerintah ditingkat Kabupaten&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Karena dalam pelaksanaannya memerlukan transportasi para digmatik terutama&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;dalam penyelenggaraan pemerintahan di daerah, dari pemikiran ini pemerintah Kabupaten&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Bone berupaya merumuskan&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;langkah-langkah yang strategis serta berbagai kebijakan untuk&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;menjawab tuntutan yang sifatnya mendesak seperti peningkatan Sumber Daya&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Pembangunan Daerah dan Pemberdayaan Potensi Bone merupakan salah satu daerah yang&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;berada dipesisir Timur Sulawesi Selatan memiliki peranan yang penting dalam&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;perdagangan&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Barang dan jasa dikawasan Timur Indonesia, apalagi Kabupaten yang berpenduduk&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;648.361 Jiwa&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;memiliki Sumber Daya Alam disektor pertambangan misalnya bahan industry&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;atau bangunan, emas, tembaga, perak, batubara dan pasir kuarsa.&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Seluruhnya dapat dieksplorasi dan eksploitasi, namun hal ini akan menjadi peluang&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;emas bagi masyarakat Bone dalam peningkatan Kesejahteraan dimasa yang akan dating&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;dalam pelaksanaan Otonomi Daerah sedikitnya hal ini akan menjadi penunjang utama&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;peningkatan pembangunan….. Insya Allah&lt;/span&gt;&lt;span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content:encoded>
			<link>https://telukbone.ucoz.net/blog/2008-11-26-14</link>
			<category>Sejarah</category>
			<dc:creator>telukbone</dc:creator>
			<guid>https://telukbone.ucoz.net/blog/2008-11-26-14</guid>
			<pubDate>Wed, 26 Nov 2008 19:08:47 GMT</pubDate>
		</item>
		<item>
			<title>Afdeling Bone</title>
			<description>Cipt : Tebo&lt;br&gt;&lt;br&gt;Afdeling Bone&lt;br&gt;Tanah kita yang tercinta&lt;br&gt;Tanah melati&lt;br&gt;Berkembang putih warna&lt;br&gt;&lt;br&gt;Afdeling Bone&lt;br&gt;Tanah penuh bunga-bunga&lt;br&gt;Harum baunya&lt;br&gt;Serbak kemana-mana&lt;br&gt;&lt;br&gt;Alangkah indahnya&lt;br&gt;Seperti hari ini&lt;br&gt;Payahku hilang&lt;br&gt;Apa dicari lagi</description>
			<content:encoded>Cipt : Tebo&lt;br&gt;&lt;br&gt;Afdeling Bone&lt;br&gt;Tanah kita yang tercinta&lt;br&gt;Tanah melati&lt;br&gt;Berkembang putih warna&lt;br&gt;&lt;br&gt;Afdeling Bone&lt;br&gt;Tanah penuh bunga-bunga&lt;br&gt;Harum baunya&lt;br&gt;Serbak kemana-mana&lt;br&gt;&lt;br&gt;Alangkah indahnya&lt;br&gt;Seperti hari ini&lt;br&gt;Payahku hilang&lt;br&gt;Apa dicari lagi</content:encoded>
			<link>https://telukbone.ucoz.net/blog/2008-11-26-13</link>
			<category>Seni</category>
			<dc:creator>telukbone</dc:creator>
			<guid>https://telukbone.ucoz.net/blog/2008-11-26-13</guid>
			<pubDate>Wed, 26 Nov 2008 15:52:09 GMT</pubDate>
		</item>
	</channel>
</rss>